Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Novel Our Ilussion Story part 4

4.5.13 Ramadhan Liya 0 Comments Category :



DISCORD 

Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Tante Yoona dan yang paling dibenci oleh Sary, bunda Adin.
Hari dimana hak asuh Adin dipilih. Pengadilan, tempat suka dan duka orang yang bersangkutan. Tempat tangis dan tawa meledak. Tempat penderitaan dan kebahagiaan muncul.

Tok..tok..tok…
Terdengar suara ketukan pintu dari arah depan rumah Adin. Seketika itu pun Adin membuka pintunya.
“Maaf. Apa benar ini rumah Bu Sary?” Ucap tamu yang ternyata adalah seorang polisi.
“Iya, benar. Ada urusan apa,ya?” Tanya Adin heran.
“Bu Sary bersama Adindarin Amelyeonny dipanggil oleh Pengadilan.”
“Hah..!! Maaf, Pak. Sebenarnya ada masalah apa, ya? Sampai-sampai Bunda saya dipanggil oleh pengadilan.”
“Maaf, De. Bukankah surat pemanggilannya sudah dikirim 2 minggu yang lalu. Bu Sary kan terlibat….” Belum sempat polisi itu menjawab, tiba-tiba bunda Adin datang.
“Ada apa, Din?” Tanya Bunda Adin.
“Ini, Bun. Ada yang cari Bunda.”
Melihat polisi itu, Bu Sary langsung kaget. Ia tahu, pasti ini ada hubungannya dengan ancaman Tante Yoona kemarin.
“Maaf, Bu. Ibu sekarang juga harus ke pengadilan. Yang lainnya sudah menunggu.” Ucap polisi itu.
“Saya tidak menyetujui semua ini. Saya tidak mau ke pengadilan.” Bunda Adin bersikeras menentang semua itu. Namun polisi tetap memaksanya. Adin pun mulai ikut bicara.
“Bun, sebenarnya ada apa, sih?”
“Ehh…” Bunda Adin tidak bisa mengatakan semua itu. Ia tidak mau Adin tahu perjanjiannya dengan Tante Yoona.
“Ada urusan tentang hak asuh saudari Adindarin Amelyeonny.” Jawab polisi itu. Mendengar semua itu, Adin sontak kaget. Ia tidak mengerti dengan semua ini.
“Bunda. Maksudnya apa, Bun?” Tanya Adin sambil menangis.
“Din, maafkan Bunda.” Jawab Bu Sary sesekali mengeluarkan air mata.
“Bunda. Adin ini anak siapa?” Tanya Adin lagi dengan mata berkaca-kaca.
“Adin, Bunda ini bukan ibumu. Maafkan, Bunda.”
“Apa, Bun? Lalu Adin ini anak siapa?”
“Maaf, Bu. Yang lain sudah menunggu. Jadi Ibu dan saudari Adinda harus segera ke sana” Ucap polisi itu.
“Saya mohon, Pak!! Saya mohon dengan hormat, Saya tidak mau berurusan dengan Bu Yoona.” Pinta Bunda Adin keras.
Adin kelihatan panik saat bundanya menyebut nama Tante Yoona. Ia semakin merasa bingung dengan urusan yang dibuat oleh Tante Yoona dan bundanya.
“Maaf, Bu. Saya hanya mengikuti prosedur. Saya mohon dengan sangat hormat, Ibu harus ikut dengan kami!!” Ujar Polisi itu sembari memaksa bunda Adin.
“Bun, ikuti saja mereka. Aku nggak mau masalah Bunda semakin membesar.” Ujar Adin ikut membujuk Bundanya.
Dengan kesal dan berat hati, bunda Adin pun mengikuti Polisi itu ke pengadilan. Dengan bekal berjuta tetes air mata, ia berharap ia tidak akan menghabiskannya karena harus kehilangan berliannya, Adin.
d
Pengadilan itu begitu hening. Semua orang tertunduk lesu menunggu kehadiran dua orang manusia yang akan merelakan belahan jiwanya. Kecuali Tante Yoona yang dari awal sangat bersemangat menunggu keputusan hakim. Ia begitu sayang dengan anak kandungnya yang sudah 15 tahun ia lupakan. Sementara, Firgo hanya bisa diam, karena ia kurang begitu tahu tentang urusan mamanya dan bunda Adin.
Plok … Plok… Plok…
Suara ketukan antara sepatu slop Adin terdengar begitu nyaring dalam ruangan yang hening itu. Mereka kemudian duduk di kursi depan yang sudah disediakan untuk mereka. Walau hanya sekilas, terlihat sekali Bunda Adin melirik tajam kepada Tante Yoona. Dan, sidang hari itu pun dimulai ….!             
d
Tok… Tok… Tok…
Ketukan palu hakim menandakan keputusan sudah didapatkan. Hak asuh Adin, jatuh kepada… Tante Yoona. Tangisan membahana dari kedua mata seorang wanita yang sudah 15 tahun merawat seorang gadis manis dengan penuh kasih sayang. Ia rela bekerja keras membanting tulang untuk membesarkan gadis itu. Dan, setelah gadis itu sudah besar, seseorang mengambil gadis itu dari pangkuannya. Betapa sakitnya hati wanita itu.
“BUNDA….!!!!   Aku hanya mau BUNDA… !! “ Teriak Adin keras. Suaranya kelihatan parau karena terus berteriak memanggil bundanya yang kini tidak bisa lagi membalas panggilannya.
Teriakan itu tak berarti apa-apa sekarang. Kehidupan Adin harus di ulang lagi bersama keluarga barunya. Hanya kenangan yang masih tersisa di nuraninya. Bak abu api yang terbang ke sana- ke mari. Bergantung dengan angin yang membawanya. Adin hanya bisa pasrah dan menjalani hidup barunya. Walau ia seorang gadis yang tegar, tetap saja, semuanya begitu cepat dan singkat.
d

RELATED POSTS

0 Comment

NO HARSH WORDS
please, don't SPAM here!
I'll reply if I didn't busy -.-