Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Novel Our Illusion Story #10

28.8.13 Ramadhan Liya 0 Comments Category :

exo

Okay, ternyata masih sempat-sempatnya buat postingan yang satu ini 
ditengah pe-er yang menumpuk.
Kalau kata peribahasa 'Mencari kesempatan dalam kesempitan' dan 'Mengisi kesempatan buat main internetan'.

Saya mau lanjutin cerita Novel Our Illusion Story. Dari judulnya, sih, ketahuan banget kalau novel ini acak adul 'alias' suka-suka gue ngaraang. Ilusi dan imajinasi gaje !
Kemarin saya posting baru sampai part 9. Kalau mau baca silakan KLIK

Yep, ini lah cerita gaje buhan K-ON  KW part 10


Hello, New Life !!

Adin, dkk  sudah lulus ujian nasional, terus mereka juga sudah lulus pendaftaran murid baru. Karena Adin mendapat nilai tertinggi seprovinsi, ia diberi beasiswa sekolah di Queenite Senior High School bersama Chaca, Rizka, dan Kiki. Sekolah itu merupakan sekolah terbaik di provinsinya. Sayangnya, Queenite dikhususkan untuk siswa perempuan. Jadi, gak bisa lagi tuh berantem sama Firgo dan Elf. Lain lagi dengan Ella yang memilih SMA Darrenlay,   sekolah itu dekat banget sama rumahnya. Alasan Ella milih sekolah itu, sih, katanya biar bisa nonton TV saat jam istirahat. Maklum, jam-jam istirahat gitu, biasanya tayang acara favorit Ella. Entahlah.. yang gak perlu diketahui, Ella si K-Popers Sejati.
Seperti namanya ‘Queenite’ yang artinya Ratu Elit *kamusgaje, maka semua sarana dan prasarana di sekolah itu bisa dikatakan super elit. Ya iyalah... secara yang sekolah di sana cuma anak-anak orang elit dan anak-anak cerdas yang beruntung mendapatkan beasiswa. Tapi ada kendala satu lagi, nih! Queenite adalah Boarding School yang mengharuskan para siswanya tinggal di asrama.
 Seberapa pun susahnya tinggal di Boarding School, yang jelas... menurut Adin, asalkan bersama sahabatnya, Insya Allah gak ada yang susah. Pasti akan selalu ceria bersama suka cita dan sejuta tawa.
Adin mendapat kamar no.34,  emang sih gak ada yang istimewa dari angka 34, tapi Adin merasa ada sesuatu di balik kamar no.34. 
Benar saja!  Ketika Adin masuk ke dalam kamar itu...  Gubyarr!! Ia langsung disambut dengan tumpahan air satu ember.
“Hahaha....  rasain lu!  Menurut lu enak apa sekolah di sini?” cemooh seorang gadis berkacamata dengan rambut pendek sebahu.
“Sudah! Sudah! Sudah, Ya! Jangan buat masalah baru, deh. Ingat! Di sini itu punya aturan.“ cergah seorang gadis lagi yang kelihatannya membela Adin.
“Maafkan sahabatku, yah.. Dia emang gitu kalau lagi dapet. Emosian dan kerjaannya ngejahilin orang. Aku sudah peringatin dia berkali-kali, tapi tetap aja ia terusin hobinya  itu.” Ujar gadis itu lagi.
Wajah Adin kelihatan linglung, sesekali bergumam.  Apa iya, orang baik yang satu ini mau bersahabat sama orang jutek yang satu lagi. Ckckk...  dunia sudah kebalik, kayaknya.
“Oh, gitu, ya? Iya, deh, gak papa, Kak. Untung aku gak dapet hari ini. Jadi kesabaran masih full.” Ujar Adin mencoba ramah dengan senior satu kamarnya.
“Ya syukur, deh. Oh iya, ‘namaku’ Ismi dan yang pake kacamata itu namanya Liya. Kalau namamu? ” Tanya senior baik yang ternyata namanya Ismi.
“Aku Adindarin Amelyeonny. Bisa dipanggil Adin, Dinda, Rin, Amel, Mely, Onny atau terserah yang manggil aja, deh. Bahkan aku pernah dipanggil Oyon dan Adun.” Jelas Adin berbelit-belit. Tambah masalah aja, nih, orang! Sudah tau ada yang lagi dapet. Tensi tinggi, nih, kayaknya...
“Heh... lebay banget, sih, bicara lu! Kayak anak PAUD ..  Nama aja gak ada yang bener. Satu aja cukup, kalee...  !!” gertak Liya.
“udah, Ya. Daripada kamu stroke di sini, mendingan kita ke taman aja. Ini, kan, sabtu sore. Sekalian cari komik Miiko terbaru. Dinda mau ikut?” ujar Ismi mencairkan suasana. Tumben banget, Adin dipanggil Dinda. Ia jadi ingat sama bundanya, Bunda Sari.
“Maaf, aku gak bisa, Kak. Aku ada janji sama temenku. “
“Oh, kalau begitu kami pergi, ya.  Silakan kamu beres-beres barang aja dulu. Untuk embernya, maaf ya. Kamu bisa beresin, kan?” Ujar Ismi.
“Iya tuh. Beresin embernya jangan males-malesan. Anggap itu sambutan terbaik gue untuk lu. Dag ~!” Timpal Liya.
Adin hanya mengangguk. Tapi, hatinya lagi garuk-garuk. Masih bingung sama dua sejoli yang berantonim ini. Ia menuruti permintaan Kak Ismi untuk membersihkan ember yang tumpah itu. Yah.. paling tidak Kak Ismi memintanya dengan sopan, bukan seperti Kak Liya.
#

“Hah.. kasihan banget lo, Din. Ahh.. untung gue gak sekamar sama senior.” Ucapan Rizka membuat  Adin tambah sensible dan menganggap kesialan menimpa dirinya di awal tahun ajaran ini.
“Wuaah.. untung kita bertiga sekamar, ya, Cha?” Ujar Kiki.
“Iya, dong, Ki. Kita kan Triplet in The Blender.” Sahut Chaca.
“Yaelah. Semenjak ketemu sama Alan, si Chaca jadi ngait-ngaitin pembicaraan sama judul bukunya Alan terus, ‘Triplet in The Blender’. Emang lo tau, Cha, apa artinya?” Rizka nambah topik.
“Bener, Riz. Sampe kita mencret-mencret barengan aja dibilang Triplet in The Blender.” Tambah Kiki.
“Hohoho..  Gue juga gak tau artinya. Tapi, kata Alan, buku itu cerita fantasi gajenya aja. Maklum, imajinasi anak kecil.” Sahut Chaca pede.
Adin yang sedari tadi gak menghiraukan pembicaraan triplet malah mangut-mangut gak jelas sendirian.
“Eh, Kak Ismi manggil gue Dinda, loh! Gue jadi keingetan sama Bunda Sari. Sudah 4 bulan gue gak nengok keadaan Bunda. Kenapa semenjak gue betah tinggal di rumah Mama Yoona, gue malah lupa sama Bunda Sari, ya?” Adin membuka topik baru (lagi).
“Beuh, dasar Adin. Bunda Sari itukan ibu yang merawat lo dari bayi. Walaupun lo lahir bukan dari rahimnya. Jadi, yang sebenarnya banyak berjasa itu Bunda Sari. Kok, lo malah lupain dia, sih. Apa selama 4 bulan, lo pernah hubungin dia? Nanyain kesehatannya?” Ujar Rizka.
“Lah, ceramah lagi, kan. Tapi emang bener, sih. Itu masalahnya! Gue jadi merasa bersalah. Bahkan, gara-gara gue, persahabatan Mama Yoona sama Bunda Sari itu jadi putus. Tambah bersalah jadinya gue.” Adin masih mangut-mangut.
“Kenapa gak lo jenguk aja, Din? Kita siap, kok, nemenin.” Usul Chaca.
“Itu masalah juga, Cha. Kita kan sudah jadi siswa di Queenite, kata senior di sini, murid baru mesti dikarantina dulu selama satu bulan di asrama ini. Jadi, mana boleh kita pergi keluar?” Ujar Kiki yang suka berteman sama senior pintar biar bisa dapat informasi penting.
 “Tapi, tadi Kak Ismi sama Kak Liya keluar bareng. Katanya mau ke Taman.”
“Itu beda, Din. Masa gak bisa bedain senior sama Junior. Kan, kata gue murid baru yang gak boleh!!”
Semuanya jadi bingung. Si triplet ikut-ikutan mangut-mangut. Sesekali Chaca mencicipi es krim nya sambil mengemutnya dengan sendok. Sedangkan Kiki, mangut-mangut sambil menyeduh teh hijau kesukaannya. Adin saling pandang dengan Rizka, dan tiba-tiba mereka berdua.......
“AHA !!! Gue punya ide...”   seru Adin dan Rizka.
“Usul lo apa, Riz ?” Ujar Adin.
“Bagaimana kalau kita pakai sapu ajaib Harry Potter dan serbuk ajaib Tinkerbell. Kan jadi gak ketahuan kalau kita pergi ke rumah Bunda Sari.” Usul Rizka dengan bangganya.
“Ampun deh, Riz. Serius, dong! Kalau menurut gue, gimana kalau kita minta tolong sama Kak Liya. Katanya, Kak Liya itu anggota Dewan Murid di sekolah ini. Kan, kita bisa minta Kak Liya supaya Dewan Murid bisa ngijinin kita ke luar.” Usul Adin.
Chaca dan Kiki mikir-mikir sejenak.
“Ahh... gue pilih usulan Rizka aja. Kelihatannya seru juga kalau kita terbang pake sapu ajaib milik Harry Potter terus baca mantra dan sparkle-sparkle muncul saat mantra itu diucapin. Hahaha... Jadi kaya dunia fantasi.” Kiki emang fans banget sama Harry Potter jadi maklumlah kalau khayalannya kayak gitu.
“Iya. Gue juga pilih usulan Rizka.  Yeyeye.. Gue pengin jadi Tinkerbell!! Go to Neverland ..... !” Yang satu ini kayaknya sejenis sama Kiki. Chaca si fans beratnya Tinkerbell. Sampai-sampai, dulu ia pernah minta dibeliin Sayap dan baju daun Tinkerbell. Nyahahaa....


-------------------------------------------------

Gak tau bakalan CONTINUED atau gak.....

RELATED POSTS

0 Comment

NO HARSH WORDS
please, don't SPAM here!
I'll reply if I didn't busy -.-