14 Maret 2012

Surat Terakhir Jessie









“Pos…Pos…” teriakan tukang pos menjadi sebuah pertanda bagus bagiku. Itu berarti sahabatku membalas suratku yang dua bulan lalu kukirim.
Aku pun bergegas menuju kotak pos.
Thank’s, Pak!” seruku ke tukang pos yang dari dulu menjadi langganan keluargaku. Mungkin sekarang usianya hampir sama dengan kakekku. Walaupun sudah tua, ia tetap semangat bekerja.
Bergegas kumengambil surat yang beramplop biru dari kotak pos. Yah, amplop biru adalah pertanda bahwa surat itu dari Jessie. Sebab, ia sangat suka ‘blue’.
Amplop surat itu langsung kubuka karena kusudah lama bersabar menunggu balasan surat Jessie.

Dear my Friendship : Billy

Hay, Billy…! Bagaimana kabarmu? Sehat2 saja, kan?! Aku di sini sangat sehat. Hahaha.
Billy, maaf aku baru balas suratmu. Sebulan yang lalu, aku bertamasya bersama keluargaku berhubung sedang musim panas. Sepulang dari tamasya aku baru terima surat kamu dan jadinya lama bales, deh..  
Sorry, ya! Nggak p2, kan?
Bill, kamu tau nggak?Minggu lalu, my mom melahirkan. Sekarang aku punya adik perempuan baru. Dia mirip sekali denganku. Namanya ‘Alice’. Dulu sih aku ingin punya adik laki2. Tapi gak p2 lah.. berhubung adik baruku ini sangat cantik dan imut(mf, agak lebay). Hehehe..
Musim panas kemarin, kamu pergi kemana, Bill? Mohon jawab pertanyaanku, yach! Don’t forget, Bill!
Aku tunggu balasan suratmu>>>
See You…
                                                    Sweety Girl
                                                       Jessie

Setiap balasan surat Jessie, ia pasti memberikan kabar baik. Surat-suratnya sangat menghiburku yang sedang kesepian. Aku merupakan anak yang tidak suka bergaul dengan lingkungan luar rumah. Karena sebuah peristiwa na’as itu, aku jadi trauma jalan-jalan ke luar rumah.
Saat itu, aku bersepeda bersama dengan sahabatku, Clara. Dulu, aku merupakan anak yang paling ceria di sekolah. Jadi aku mempunyai banyak teman, termasuk sahabatku ini.
Sore itu, aku yang mengendarai sepeda itu dan membonceng Clara. Kami bersepeda di sekitar jalan yang berbukit-bukit atau banyak turun naiknya. Kami sangat suka daerah itu. Saking asyiknya bersepeda, kami lupa bahwa daerah itu sedang dalam perbaikan. Dan tanpa sengaja, aku mengendarai sepeda terlalu cepat hingga sepeda itu bertabrakan dengan batu besar bekas perbaikan jalan. Kami beserta sepeda itu terjungkal. Dan yang paling parah, Clara terjungkal sampai ke tengah jalan. Dan tepat di depan Clara ada sebuah mobil yang melaju kencang dan Braaaaakkkkkkkkkk……
Mobil itu menghantam tubuh kecil Clara.
Melihat kejadian itu, aku langsung berteriak histeris. Dan yang paling membuat diriku bersalah adalah Clara meninggal dunia pada kejadian itu karena kelalaianku.
Mungkin karena peristiwa itu, kehidupanku berubah dengan kesunyian. Billy yang sekarang bukanlah Billy yang ceria lagi. Billy yang sekarang tak mempunyai sahabat lagi kecuali Jessie. Jessie pun bukan sahabat dekatku, aku pun tidak pernah melihat wajahnya secara lansung. Perkenalanku dengan Jessie berawal dari surat ‘sahabat pena’.
Selesai membaca surat Jessie, aku pun buru-buru membalasnya. Aku tak mau ia menunggu lama dan aku pun ingin menerima balasan suratnya secepatnya.


Dear Sweety Girl : Jessie.

Jessie… Kabarku very2 fine.
Aku mengerti kok alasanmu membalas suratku agak lambat. Dan aku pun menunggunya dengan senang hati.
 Selamat, ya! Adikmu pasti cantik seperti kamu, ya kan?! Hmm.. Pengen punya adik juga! Abis udah bosan punya kakak yang bisanya cuma ganggu adiknya aja.
Oh, iya! Hampir lupa. Musim panas kemarin, aku gak pergi ke mana-mana. Aku di rumah aja. Hahaha.. maaf jawabanku gak berkesan. Tapi, itulah aku. Aku lebih suka menyendiri di rumah dan balas suratmu.
Kirim surat lagi, yach..! aku sangat senang membaca surat2 mu yang menarik itu. Terus beri kabar baik ke aku, ya! See You…
                                                    Your Friendship
                                                            Billy

Selesai menulis surat, aku langsung memberikan surat itu ke Paman Sam, pembantuku. Ia yang akan mengantarkan surat itu ke kantor pos. Dan aku tinggal tunggu balasannya.
Setiap akhir pecan, Louis, kakak perempuanku pergi ke mall. Dan sekarang aku ingin minta bantuannya membelikanku sebuah hadiah yang rencananya akan ku berikan kepada Jessie di hari ulang tahunnya yang akan tiba dua bulan lagi.
“Ka Louis mau ke mall, ya?” Tanyaku pelan.
“Yep.. Emangnya kenapa?” Jawabnya jutek.
Ya, begitulah kakakku. Orangnya super jutek dan super nyebelin.
“Emm.. aku boleh minta tolong, nggak?” Tanyaku
lagi agak ragu. Takut ia tidak mau.
To the point aja , Bill!” jawabnya singkat.
“Aku mau pesan dua buah shawl yang warnanya biru. Yang lembut, ya kainnya. Pliss, tolong aku!” Pintaku dengan wajah memelas.
“Beli aja, ndiri!” Jawab putri super nyebelin.
Hu-uh… Bikin orang kesal aja, nih orang. Gak tau apa adiknya ini trauma jalan ke luar rumah.
“Aku nggak bisa, Kak! Pliss, bantuin aku, dong. Ntara ada upahnya, deh.” Bujukku. Ya, memang harus gitu caranya menjinakkan putri super nyebelin ini.
“Oke, deh. Tapi benar, ya! Upahnya?!” Ia masih ragu denganku. Ma’lum, aku sering bo’ongin dia.
“Iya, iya!! Believe me!” seruku santai.
Saat itu juga, kak Louis pergi. Harapanku nanti, aku bisa mengirimkan hadiah ini kepada Jessie sebagai lambang persahabatan kami yang tak akan putus, selamanya. Bagaikan shawl kami yang terus terikat dan tidak mudah diputuskan.

                                                         ^_^

Sepulangnya kak Louis dari mal, aku langsung mengambil dua buah shawl yang ku pesan. Amazing.. Shawl itu sangat bagus. Lebih bagus dari yang kuharapkan. Ternyata kak Louis pintar juga milih barang. 
Aku pun langsung membungkus satu shawl menjadi sebuah paket. Shawl yang satunya lagi untukku. Paket itu kemudian langsung dikirim Paman Sam ke kantor pos. Huahhh…. Leganya..!


                                                            ^_^


Dua bulan telah berlalu. Tepat tanggal 10 Januari, Jessie berulang tahun. Ku harap dia sudah menerima hadiahku, dan membalas suratku.
                                                               ^_^


Ehm.. sebulan sudah kumenunggu surat dari Jessie. Namun, tak satupun surat beramplop biru masuk ke kotak pos ku. Aku merasakan ada yang nggak beres dengan Jessie. Hatiku terus saja memikirkannya.
Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan ku menunggu, tapi tetap tak ada. Hingga sampai disuatu hari, tukang pos datang. Aku yakin, itu surat dari Jessie. Buru-buru ku melihatnya. Namun, yang kutemukan bukanlah surat beramplop biru, tapi sepucuk surat beramplop kuning. Warna kuning kan berarti duka cita. Segera ku membaca surat itu.

To : Billy

Maaf sebelumnya.
Aku Dione, kakaknya Jessie.
Mungkin kamu heran menerima surat ini.
Dan mungkin kamu heran juga, kenapa Jessie tidak membalas suratmu.
Sesuai dengan permintaan terakhir Jessie di saat-saat terakhirnya.
Surat ini kubuat untukmu dengan maksud untuk menghilangkan rasa kecewamu pada Jessie karena ia tidak membalas suratmu.
Saat saya menulis surat ini, Jessie sudah tidak ada. Ia pergi meninggalkan kita semua termasuk kamu.
Ia pergi dengan peristiwa tragis.
Aku harap kamu sabar!
Jessie sudah meninggal dunia.
Ia meninggal dalam kecelakaan maut saat merayakan ulang tahunnya yang ke 15.
Untuk tidak membuatmu penasaran, kecelakaan itu terjadi karena rem mobil yang kami tumpangi mendadak blong. Dan peristiwa itu merenggut nyawa Jessie dan Alice, adiknya.
Aku tahu, kamu pasti terkejut membacanya. Begitu pun dengan kami, keluarganya.
Maafkan Jessie, ya! Karena telah membuatmu terus menunggu suratnya. Oh, iya! Paketmu sudah kuterima. Tapi, shawl itu tak sempat dipakai Jessie. Maafkan Jessie, ya Bill…
                                          Dione

Membaca surat itu, jantungku berdegup kencang. Darahku seperti berhenti mengalir, dan sekujur tubuhku mendadak kaku. Perlahan, setetes air mata jatuh ke pipiku.
Ini kali pertama suratnya membawakan kabar buruk. Aku tidak menyangka hidup Jessie berakhir seperti ini. Berakhir seperti hidup Clara. Mengapa sahabatku pergi meninggalkanku sendirian. Dan kenapa mereka pergi dengan cara yang sama.
Sekarang, siapa yang akan menemaniku dan menghiburku? Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku bukanlah Billy yang terus sendiri. Di luar sana banyak orang yang perhatian denganku. Kenapa aku terlalu larut dengan masa lalu. Sehingga membuatku kehilangan arah menuju masa depan.
Aku harus bangkit. Aku ingin menjadi Billy yang dulu. Ya, Billy yang ceria dengan senyum di wajahnya. Selamat tinggal, Jessie. Ku kan selalu mengenangmu dan mendo’akanmu agar kau tenang disisiNya. 




This entry was posted in

0 Comment:

Posting Komentar

NO HARSH WORDS
please, don't SPAM here!
I'll reply if I didn't busy -.-