Tampilkan postingan dengan label fanfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fanfiction. Tampilkan semua postingan

19 Juni 2014

Su[N]ight (fanfic the sims 3)


Morning, fellas
Sesuai permintaan banyak pihak termasuk keinginan aku sendiri,
Akhirnya pengalaman aku main the sims 3 bakal dijadiin Fanfiction. ;p
Selain nyalurin hobi main dan desain di the sims 3, fanfic ini juga bisa nyalurin kembali hobi nulis yang telah lama terlantar setelah menjalani hidup sebagai siswi putih abu-abu.

Check it out!




Title : Su[N]ight
Genre : Drama, Fantasy, Slice of Life
Main cast : Lillia Naya, Fandu Naya, Ditmar Naya, Liya Naya

Story :
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
......



Biografi Main Cast


Name : Lillia Naya
Birthday : 23 Maret 2023
Age : 16 y/o
Dreams : To be a perfect daughter and housewife







Name : Fandu Naya   a.k.a   Yoo Seung Ho
Birthday : 7 Juli 2020
Age : 19 y/o
Dreams : To be a Politician








Name : Ditmar Naya
Birthday : 5 Oktober 2000
Age : 39 y/o
Job : Sport Legend and Professional Writer








Name : Liya Naya
Birthday : 3 Januari 2003
Age : 36 y/o
Job : Mad Scientist and Housewife




Nantikan ceritanya, yaaa _

Su[N]ight | Chapter 1



CHAPTER 1

Lihat biografi para tokoh di sini



Gelap, kalut... yang kubisa hanya menunggu kehadiran sang Fajar.

Mataku yang dua jam lalu terpejam akhirnya kembali terbuka. Wooahhmm..
Ternyata secercah cahaya dari langit yang membangunkannya. Hari yang cukup cerah untuk pagi ini. Udara segar pun mulai terhirup dari respirasiku.



Well, namaku Lillia Naya. Ya, aku keturunan dari keluarga Naya dan satu-satunya penerus perusahaan Sport Internasional sekaligus pewaris 42.575 dollar per-minggu dari hasil 18 buku best-seller papaku.

Tak ada yang spesial dariku bahkan keberuntungan pun sangat jarang menyentuh punggungku.
Siapa aku? Aku pun bahkan tidak mengenalnya. Papa dan mama tidak pernah sekalipun membelai foto-fotoku, meski beribu-ribu fotoku dipajang di kamar mereka. Ah, tidak.. satu fotoku pun tidak pernah mereka pajang di wilayah rumah sebesar ini.
Selama mata memandang, di rumah ini hanya ada foto anak kecil itu. Bocah laki-laki dengan dot bayi di tangannya. Seiring bertambahnya usia, pertanyaanku tentang bocah itupun semakin banyak. Papa dan mama sangat antusias jika aku menanyakan ‘siapa bocah itu?’

Mulut mereka seolah sedang curhat denganku. Mereka bilang, bocah itu anak mereka. Jawaban mereka saja sudah membuatku merasa tidak dianggap. Jika aku memang anak mereka, seharusnya mereka memperbaiki jawaban itu, seperti misal ‘bocah itu saudaramu’, atau ‘bocah itu kakakmu’, atau jika memang dia lebih muda ‘bocah itu adikmu’.

Lalu, ekspresi mereka pun berubah saat aku menanyakan pertanyaan selanjutnya,
‘di mana dia sekarang?’.

Tetesan air mata muncul dari kedua mata mama, sementara kening papa terlihat mengkerut. Dengan sedikit terisak, mama menceritakan bahwa bocah itu telah diadopsi oleh pekerja sosial dari pemerintahan saat usianya baru menginjak 3 tahun. Saat itu, keluarga Naya sedang dilanda krisis keuangan hingga bocah bayi itu terlantar kelaparan. 16 tahun yang lalu, bayi itu telah diadopsi oleh keluarga kaya dari California.

Sejak saat itu, papa dan mama bekerja keras banting tulang untuk memperbaiki keuangan. Lalu, mereka berencana untuk memiliki anak laki-laki lagi sebagai penglipur lara sekaligus pengganti bocah itu. Namun, harapan itu sirna ketika aku lahir. Ya, aku anak perempuan yang tak diharap.

Ah, memang tidak ada yang istimewa dariku, bahkan ketika aku lahir...



Pagi ini terasa sangat hangat. Kakiku saja tidak menginginkan aku beranjak dari kursi empuk ini. Semilir angin menerpa rambut pirangku, mencoba membantuku bangkit dari kekalutan.

“Assalamualaikum.. Pah, Mah..”
Tiba-tiba saja, sebuah teriakan bersama dengan suara angin remang-remang terdengar dari telingaku. Aku mencoba berpaling, mengarahkan pandanganku ke arah suara teriakan yang berasal dari pintu gerbang.




Seorang laki-laki berkacamata yang kira-kira lebih tua dariku tiba-tiba menerobos masuk dari pintu gerbang.

“Hei, heii.... tunggu!” Aku pun beranjak dari tempatku, mencoba mengejar orang aneh itu.
“Heiii.........! “ Aku berteriak sebisaku, namun dia tetap meneruskan langkah kakinya ke arah pintu rumah.




Aku berlari mengeluarkan separuh tenagaku untuk mencegatnya. Dan akhirnya aku berhasil. Orang aneh ini belum tahu kalau ‘Lillia seorang atlet lari marathon terbaik di sekolahnya’.

“Hei, siapa kau? Pengantar koran atau tukang post? Eh, tunggu.. tapi mengapa tidak pakai seragam? Oh, mungkin kau seorang babysitter. Tapi di rumah ini tidak ada balita. Jadi, siapa kau?”

Baru kali ini aku menghadapi tamu yang tidak mempunyai sopan santun. Biasanya, tamu papa dan mama sangat sopan ketika masuk. Mereka bahkan tidak berani membuka gerbang sebelum papa atau mama sendiri yang menyambut mereka. Teman-temanku yang berkunjung ke rumah pun memiliki etika seperti itu.

Lalu, masalah apa yang dimiliki tamu tidak punya sopan santun ini?
“Kau siapa? Ini rumah keluarga Naya, kan?” orang itu balik nanya. Ya ampun, apakah otaknya sedang direhabilitasi.
“Iya. Ini memang rumah keluarga Naya. Dan aku... aku adalah putri mereka.” Sahutku ketus.
“Siapa? Putri? Jadi, sekarang keluarga Naya telah mempunyai seorang anak perempuan. Ah, berarti aku telah mempunyai adik.” Seru orang itu.

Argghh.. orang ini memang keterlaluan. Aku yang terlebih dulu bertanya ‘siapa’ malah aku yang tidak tau dia.

“Jika memang Papa dan Mama belum memperkenalkanku kepada adikku ini, maka izinkanlah aku sendiri yang memperkenalkan diri. Namaku..................” 

Perkataan orang itu segera kuputus karena.. aku.. aku belum bisa menerima kenyataan ini. Kakak? Berarti bocah di foto itu? Jadi, anak kesayangan itu telah kembali ???

“Oh, maaf... maaf...! Saya rasa Anda salah alamat. Mungkin keluarga yang Anda maksud bukan keluarga Naya ini. Maybe, Naya yang lain. Jadi, saya persilakan Anda untuk keluar lewat pintu gerbang itu.” Gertakku dengan halus.
Orang itu tidak mengindahkan perintahku. Ia malah berteriak dengan kencang sambil mengetuk-ketuk  pintu.
“Maa... Paa... Ini aku Fandu.”

Daripada teriakan orang ini semakin bertambah keras, aku pun memutuskan untuk menemui Papa, menceritakan apa yang telah terjadi, dan memastikan bahwa tamu itu bukanlah bocah 19 tahun lalu. 





Aku mencoba mencari Papa di sekeliling rumah. Setelah menemukannya, mulutku pun berbicara.

“Pa.. ada tamu aneh di luar Dia bilang, dia anak kalian. Namanya Fandu. Ah, dia sangat pintar bersandiwara.. Mana mungkin dia mengaku sebagai bocah foto itu. Ya kan, Pa?” Ujarku mencoba mempraktekkan bahasa persuasif yang aku pelajari dari sekolah online.

Sesuai dugaan, Papa tiba-tiba menembakiku dengan beribu pertanyaan.
“Siapa, Li? Fandu! Fandu Naya? Fandu 16 tahun silam? Di mana, Fandu? Di mana dia, Li?”

Aku hanya bisa mengarahkan telunjukku ke arah pintu depan. Papa segera berlari untuk menemui bocah itu. Aku berdehem sebentar, menghela nafasku agar semua tidak terlalu cepat mengubah hidupku yang flat. Kemudian, aku pun mengikuti langkah papa.

Sesampainya di depan pintu rumah, aku tidak menemukan siapa-siapa lagi di sana. Papa komplain denganku. Oh tidak, aku lupa mengunci pintu sebelum mencari papa.

Fandu.... Apa kau memang Kakakku?
#

Di sisi lain..

Pintu depan kutinggalkan dalam keadaan tidak terkunci. Dan itulah yang membuat Fandu, oh mungkin sekarang aku bisa memanggil bocah itu dengan sebutan Kak Fandu. Ya, pintu dan kecerobohanku itu membuatnya leluasa masuk ke rumah besar tanpa satpam itu.
Siapa dia? Seenaknya masuk ke rumah orang. Bahkan, orangtuaku saja belum memverifikasi bahwa dia anak mereka. Tapi, begitukah perilaku anak yang 16 tahun silam hidup jauh dari orangtua kandungnya? Sebegitukah anehnya?




Setelah berkeliling dalam rumahku, akhirnya Kak Fandu berhasil menemukan kamar Mama. Dan dia berhasil membangunkan Mama dengan hanya mengatakan,
“Mamah... Ini Fandu.”

Mama pun segera bangkit dari tempat tidurnya. Dia mengucek matanya sebentar, lantas memeluk anak itu.




“Fandu, anak sulungku... Kau benar-benar telah kembali, Fan?” Tanya mama terisak-isak. Sementara, bulir-bulir air mata berjatuhan dari kedua matanya.
“Iya, Ma. Fandu kembali untuk kalian. Fandu berusaha kembali demi kalian agar kalian tidak terus menangis di hadapan pekerja sosial pemerintahan yang menjemputku 16 tahun silam. Karena itu... itu... itu pasti sangat mengiris batin kalian. Fandu tidak ingin batin kalian semakin terluka. Ini Fandu, Ma...”

Oh, pertemuan ini memang sangat berharga bagi mereka. Tapi bagaimana denganku? Meski aku senang Kak Fandu telah kembali, tapi masih ada banyak pertanyaan yang mengganggu pikiranku. Dan itu abstrak sekali.

Jadi, bagaimana denganku?  Apa Papa dan Mama akan menganggapku sebagai anak mereka setelah kembalinya Kak Fandu? Aku akan menerima apa pun jawabannya, meski mungkin aku hanya dianggap anak bungsu biasa,  bukan anak sulung kesayangan.
#

Matahari dan bulan masih melakukan pekerjaannya dengan disiplin. Dan aku masih setia menghirup udara dini hari di atas kursi empuk samping teleskop. Ya, semua rutinitasku masih sama. Yang beda hanyalah keadaan batinku yang sekarang lebih membaik.

Ternyata kedatangan Kak Fandu memang sebuah keajaiban. Ia berhasil membuat Papa dan Mama menyayangiku layaknya seorang anak. Mungkin Papa dan Mama sekarang merasa hidup mereka sudah lengkap dengan kehadiran Kak Fandu sebagai kakakku. Dan aku pun merasa begitu.

Aku menyesal telah membentak Kak Fandu saat pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah ini. Padahal, langkah pertamanya itulah yang membuat hidupku sekarang menjadi lebih baik. Kata ‘Maaf’ memang belum begitu mewakili perasaan bersalahku, tapi hanya itu yang dapat kulakukan. 





“Aku.. Aku mungkin pernah membentak kakak. Tapi karena saat itu aku sedang badmood, sementara seseorang yang belum pernah kukenal masuk tanpa izin ke dalam rumah. Bukankah itu hal biasa? Jadi, karena sekarang aku tahu bahwa kau kakakku, maukah kau memaafkanku, kak?”
Pintaku sepenuh hati. 




Kak Fandu bangkit dari kursinya. Ia mengajakku bicara.
“Ya, kau betul sekali. Itu hal biasa layaknya seseorang yang belum pernah saling kenal. Dan sekarang, karena aku kakakmu, jadi mana mungkin aku tidak memaafkannya. Anggap saja itu sebuah rude introduce dariku. Hehe.” 




“Jadi, kau memaafkanku?” tanyaku  bersemangat. Ah, aku belum pernah merasakan ini. Perasaanku benar-benar bahagia. Punya papa, mama dan sekarang aku punya kakak. Keluarga ini benar-benar sudah lengkap begitu pun hidupku.

Aku tidak sabar menjalaninya...
#

BERSAMBUNG..................!



30 September 2013

He is My Teacher (fanfiction by ramadhan liya)



Sebenarnya, aku sulit melakukan ini. Aku hanya mengagumimu. Semua yang kau miliki, kecerdasanmu, kedisiplinanmu, bahkan gerak-gerikmu. Mianhae...  aku memang gak pernah berharap lebih. Tapi, maukah kau menjadi sahabatku?

Jaebum menatap lekat-lekat surat beramplop biru muda yang ia temukan di dalam laci mejanya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sebentar, sesekali berdehem.
“Dasar Ms. X ....  Bagaimana aku bisa bersahabat denganmu? Namamu aja gak dicantumin”, katanya sembari melipat kembali surat itu dan menyimpannya ke dalam tas ungu bergambar Doraemon. Tanpa Jaebum sadari, ternyata di balik pintu kelasnya, ada seorang siswi yang sedang mengintip. Siswi itu mencoba bersembunyi di balik pintu besar bertuliskan  kelas XII-IPA 2.  Gerak-gerik siswi itu ternyata diketahui juga oleh Sueki, sahabatnya Jaebum.
“Suzy, sedang apa kau di sini ? Kamu mau ketemu sama Ji ?” tanya Sueki setengah menggoda.
Suzy jadi salah tingkah. Pipinya memerah, tangannya bergetar-getar, dan tiba-tiba lari dengan cepat ke kelasnya. Jaebum terkejut dan menghampiri Sueki.
“Ada apa, Suek ?”
“Murid lu, Jae. Gak tau kenapa? Tiba-tiba dia kabur sendiri.” Jawab Sueki.
Jaebum berpikir sejenak. Apakah Suzy ada hubungannya sama surat tadi ?
#
Bel di SMA Fillizo berbunyi  4 kali, tanda bahwa jam istirahat sudah berakhir dengan kata lain ‘saatnya semua siswa masuk kelas dan belajar kembali’.
Terlihat seorang guru sedang mengobrol dengan seorang siswi sambil berjalan menuju kelas Jaebum.
“Selamat siang semua! Di sini, Ibu bawa murid baru. Silakan perkenalkan dirimu, Yoona.” Kata wali kelas XII-IPA 2.
Annyeong, guys... Nama saya Im Yoon Ah. Panggil saja Yoona. Saya pindahan dari Billboard Genie Senior High School,” kata Yoona sambil tersenyum manis. Semua siswa, kecuali Jaebum serasa terhipnotis dengan senyuman Yoona. Memang ! Karena Yoona salah satu model populer yang mungkin sudah dikenal oleh semua siswa di Fillizo.
“Silakan kamu cari tempat duduk,” suruh Bu Wali.
Yoona memandangi sebentar seluruh siswa di kelas itu. Matanya seakan tertarik oleh gaya magnet Jaebum yang kalem. Tanpa basa-basi, ia kemudian memilih duduk di pojok nomor 3, sebelahan sama Jaebum. Yoona mencoba berkenalan dengan Jaebum.
“Hay, bolehkah aku tahu siapa namamu?”
“Oh, namaku? Perkenalkan, aku Im Jae Bum.”
“Salam kenal Jaebum !” ujar Yoona tersenyum. Jaebum ikut tersenyum, namun tak semanis saat tersenyum dengan Suzy.
Pelajaran hari itu adalah Matematika.  Tak salah Suzy memilih Jaebum sebagai guru lesnya, karena Jaebum lah yang menjadi kebanggaan guru matematika dan mungkin guru Sains Fisika, Sains Astronomi, Bahasa Inggris, serta Teknologi . Selama 3 tahun di Fillizo, Jaebum tak pernah absen diikutkan lomba dan tak pernah mengecewakan.  Tentu saja, ia menjadi idola di Fillizo.
Jaebum tak sengaja menunjukkan kelihaiannya dalam menyelesaikan soal matematika. Sehingga, Yoona menjadi kagum dengan Jaebum.
Omo... Jaebum ! Kau hebat sekali ! Selama aku di sekolah, aku gak pernah ketemu siswa secerdasmu. “ Puji Yoona dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan terlalu memuji ”, ujar Jaebum merendahkan diri.
Not, Im serious! You’re perfect! Kalau boleh, aku ingin memintamu menjadi guru les matematikaku. Kebetulan, aku sangat lemah dalam pelajaran ini. Please ..” pinta Yoona dengan senyumnya yang sangat indah.
“Apa?! Apa kamu yakin? Masalahnya, aku sudah punya satu orang murid. Dan aku terlalu sibuk untuk menjadi pengajar dua orang murid” ujar Jaebum.
“Kumohon!! Kalau tahun ini aku gak lulus ujian matematika, aku bakal diasingkan papaku, dan otomatis karirku bakal hancur. Kumohon, Jaebum....” Yoona mencoba menunjukkan bakat actingnya. Ia memasang wajah memelas.
Berkat wajahnya yang cukup membuat orang kasihan, Jaebum pun akhirnya menuruti kemauan Yoona. Betapa senangnya hati Yoona.
#
“Suzy...  tolong ambilkan alat peraga tengkorak di kelas XII-IPA 2, ya!” perintah Hwarin, ketua kelas XII-IPA 1.
“Percuma, Rin ! Mana berani anak mami ini ngambil tengkorak. Pikir dong, Rin...!” Ejek Sueki yang sekelas dengan Suzy.
Suzy memang sudah biasa dengan ejekan Sueki. Karena baginya, Sueki itu bukan tukang ejek, tapi tukang cari masalah. Dan Suzy tidak suka dapat masalah.
“Suek.. Suek.. Jangan berlagak gak tau, deh! Suzy itu gak akan takut ke kelas sana. Di sana, kan, ada pangerannya. Haha.....” ejek Hwarin. Suzy memang selalu diejek di kelasnya. Tapi, ejekan itu hanya bersifat lelucon. Dan seisi kelas juga tahu hal itu. Jadi, Suzy merasa enjoy-enjoy saja.
“Baiklah. Aku ambil.. tapi bisakah kalian berhenti mengejekku?” Suzy memberanikan diri.
“Oh, tidak bisa...” Koor semua siswa serentak. Tawa Sueki semakin menjadi-jadi.  Karena dialah yang paling bersemangat untuk membuat lelucon ke Suzy. Dan, menurut gosip sekolah, ternyata Sueki itu pernah naksir sama Suzy.
Suzy pun beranjak pergi ke kelas XII-IPA 2  di mana alat peraga itu berada.
Sesampainya di sana, ia melihat Jaebum sedang asyik ngobrol dengan seorang siswi baru yang tak dikenalnya. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi, Jaebum kelihatan sangat akrab dengan siswi itu.
“Ehem... “ Suzy sengaja berdehem keras. Jaebum yang dari tadi tak menyadari kedatangan Suzy tiba-tiba kaget.
“Suzy.. ada apa?” tanya Jaebum. Suzy hanya diam. Ia tak mau menjawab ataupun bicara dengan Jaebum. Setelah mengambil alat peraga itu, Suzy langsung pergi ke kelasnya. Sedangkan Jaebum masih bingung dibuatnya.
#
“Jaebum bisakah aku ke rumahmu sekarang juga.
Aku mau bertanya tentang soal-soal matematika tadi siang.
Boleh, ya?!”

Jaebum membaca SMS dengan isi yang sama ke 7 kalinya dari Yoona. Huh.. padahal ia masih ada di rumah Suzy. Ia tak mau meninggalkan tanggung jawabnya sebagai guru les private Suzy. Tapi, Yoona terus saja memaksa dan mengirim sms berkali-kali ke ponselnya. Dan itu, membuat acara les Jaebum dan Suzy terganggu.
“Ada apa, Jae?” tanya Suzy heran melihat wajah Jaebum yang gelisah.
“Apa ada masalah? Atau ada acara mendadak?” Lanjut Suzy.
Mianhae, Suzy. Kayaknya sampai di sini dulu, ya, pelajarannya. Aku harus pergi.” Ujar Jaebum.
“Baiklah. Jika itu memang penting.” Ujar Suzy. Wajah Jaebum kelihatan sedikit menyesal, begitupun dengan Suzy yang kelihatan kecewa. Dengan berat hati, Jaebum pulang ke rumahnya.
#
Semakin hari, hubungan Suzy dan Jaebum semakin merenggang.  Jaebum sering tak datang ke rumah Suzy dengan alasan yang beragam. Saat les pun, Suzy tak bisa berkonsentrasi. Ia merasa Jaebum tidak mempedulikannya lagi. SMS Jaebum jarang dibalas oleh Suzy. Suzy merasa ia tak ada harganya di mata Jaebum.
Hingga suatu hari. Hari yang sangat berharga bagi Suzy, karena pada hari itu, umurnya tepat 17 tahun. Papi dan Mami Suzy mengadakan pesta besar-besaran. Namun, Suzy merasa risih dengan pesta itu. Tepatnya, ia memang tidak bisa bergaul dan bersenang-senang saat pesta ulang tahun seperti orang kebanyakan. Ia lebih menginginkan acara sederhana seperti syukuran dengan mengundang para anak yatim ke rumahnya yang mewah itu. Dan tentunya, Jaebum harus ada.
Namun, pada acara pesta itu, Jaebum malah tidak hadir, justru Sueki yang hadir dan menghiburnya.
Seungil cukka hamnida, Suzy!” ucap Sueki sambil menyerahkan kado besar berwarna biru muda. Bagaimana ia tahu warna kesukaan  Suzy?
“Gumawo, Suek.  Emm..  Jaebum gak datang? “ tanya Suzy.
Sueki kelihatan gelisah, dan mencoba mencari kalimat yang tepat sebagai jawabannya.
“Ah... mungkin dia sedang sibuk. Dia kan memang gitu, sibuk belajar buat UN sama latihan dance buat acara pentas seni tahunan.”
“Oh, segitu sibuknya kah, dia?” Suzy kelihatan sangat kecewa.
“O ya. Dia menitipkan ini untukmu. Katanya, dia minta maaf karena gak bisa hadir ke sini.” Ujar Sueki sembari menyerahkan kado kecil dengan hiasan boneka rilakkuma yang mungil.
Suzy mengambilnya dan menyimpannya. Sepertinya, ia lebih suka dengan kado kecil daripada kado besar.
Malam semakin larut dan pesta pun berakhir tanpa kegembiraan di hati Suzy.
#
“Hey, katanya, dia kecelakaan, ya?” bisik Minai, siswi di kelas Suzy yang kerjaannya tukang gosip, dan suka ikut campur urusan orang.
“Ya gitu! Ditabrak. Tapi, gue pikir itu salah dia juga, sih.. Dia kan yang ngebut sendiri.” Ujar temannya.
Maybe. Tapi, kasihan gue ngelihatnya. Kata sahabatnya, Sueki, dia lumpuh. Gak bisa jalan. Apalagi  gerak!”
“Terus.. gimana nasib pentas nanti? Dia kan dancer terhebat dan yang bikin orang banyak nonton.”
No comment. Gue juga pusing!”
Suzy tak sengaja mendengar gosipan mereka. Ia mencerna kalimat demi kalimat yang mereka ucapkan. Sahabat Sueki? Dancer terhebat?  Ia meneguk liur sejenak, lantas mengambil  kesimpulan bahwa orang yang dibicarakan Minai adalah Jaebum.
Tanpa basa-basi, Suzy langsung pergi mencari Sueki di habitatnya, Cafeteria.
Sorry, Suek. Aku mau nanya.” Ujar Suzy ngos-ngosan.
“Tenang, Zy. Ada apa, sih?”
“Kamu berangkat sekolah bareng Jaebum,  gak, tadi?”
“Eh.. em, oh.. enggak.” Sueki rupanya agak kesulitan mencari jawaban.
“Terus.. Jaebum hadir gak hari ini?” Tanya Suzy cemas. Sueki kelihatan gelisah.
“Suek. Tolong jawab! Apa benar Jaebum kecelakaan?”  Gertak Suzy.
“Mianhae, Suzy. 2 Hari yang lalu Jaebum memang kecelakaan. Ketika itu ia pulang dari rumah Yoona.” Jawab Sueki terbata-bata.
“Yoona? Jadi, selama ini, dia benar-benar  dekat sama Yoona. Ya ampun.. kenapa aku jadi...“      perkataan Suzy cepat dipotong Sueki.
“Sebentar, Zy!  Jaebum itu gak punya hubungan apa-apa sama Yoona. Jadi, Jaebum sering ke rumah Yoona itu karena...  yaa.. karena dipaksa. Dipaksa oleh Yoona dan papanya Yoona.  Aku sendiri baru tahu kalau papanya Yoona itu atasan  ayahnya Jaebum.  Mau tidak mau Jaebum harus menuruti perintah papanya Yoona.....” Ujar Sueki. Terus dipotong oleh Suzy
“....dengan alasan menjadi guru les privatnya Yoona?  Namun, Yoona salah menafsirkan sifat care Jaebum. Kamu tahu sendiri, kan? Jaebum itu selalu perhatian dengan muridnya. Mungkin itu yang membuat Yoona berpikiran bahwa Jaebum menyukainya.” Lanjut Suzy.
By the way,  kamu juga menafsirkannya seperti itu, kan?” goda Sueki.  Pipi Suzy langsung berubah menjadi merah padam.
“Nah, sore itu setelah les privat dengan Yoona selesai, Jaebum berkeinginan untuk pulang segera karena ada urusan penting. Bodohnya, Jaebum memberitahukan urusan penting itu ke Yoona. Akibatnya, Yoona melarang keras Jaebum untuk pulang. Malah, ia mencari alasan agar Jaebum mau ikut acara keluarganya di restoran. Ya pastilah, Jaebum gak mau. Karena urusan itu sangat penting. Jaebum nekad pergi mengendarai motornya sambil ngebut-ngebutan dengan Yoona yang mengejarnya dengan mengendarai mobil.” Ujar Sueki. Suzy memotong lagi.
“Astaga, Jaebum!!  Mengapa ia senekad itu.  Apa urusan itu sangat penting?” ujar Suzy sedikit terisak dan mulai meneteskan air mata.
“Engg.. nanti kau juga akan tahu. Jadi, karena di kejar, Jaebum jadi ngebut gak jelas. Sebenarnya, Jaebum itu gak jago ngebut. Tapi hari itu, ia nekad ngebut. Karena beban pikiran yang banyak, konsentrasi Jaebum buyar.  Naas, Jaebum menabrak mobil gerbong. Parahnya lagi, mobil Yoona ikut tertabrak mobil gerbong itu. Ibunya Jaebum menghubungi aku, dan aku segera ke rumah sakit menemui  Jaebum. Sesaat ketika Jaebum masih sadar, dia menitipkan kado untukmu.”
“Kamu jahat, Suek Kenapa baru sekarang kamu memberitahukannya ke aku?” Suzy agak kecewa. Emm. Mungkin sangat KECEWA.
Mian, Suzy.  Jaebum melarangnya. Katanya, nanti persiapanmu buat ujian nasional rusak gara-gara kondisinya yang sekarang.”
Kini tangisan Suzy tak terbendung. Sueki jadi kasihan dengannya. Walaupun masih ada rasa cemburu terhadap sahabatnya, Jaebum. Suzy memohon agar setelah pulang sekolah Sueki bisa mengantarkannya ke rumah sakit tempat Jaebum di rawat. 
#
Setibanya di depan pintu kamar di mana Jaebum berada, Suzy agak merasakan sedikit nervous. Entahlah..  Suzy memang sedikit pemalu.
“Assalamualaikum, Jaebum.” Salam Sueki sambil mengetok pintu.
“Waalaikumsalam. Silakan masuk. “ Jawab seorang wanita yang kira-kira sudah menginjak 40 tahun-an tapi sangat cantik membukakan pintu dan mempersilakan mereka masuk.
“Kamsahmida” Ujar Suzy.
“Eh, Sueki.. Suzy juga datang?” Tanya wanita  yang sebenarnya ibu Jaebum. Ia memang sudah kenal dengan Suzy, karena katanya Jaebum sering menceritakan Suzy kepada ibunya itu.
“Ibu keluar sebentar, ya. Mau tebus resep. Silakan duduk-duduk dulu. Jaebum masih tidur. Mungkin gara-gara obat bius tadi.” Kata Ibu Jaebum ramah dan langsung ke luar.
“Suzy, aku mau cari minum dulu, ya.” Sueki ikut-ikutan ke luar. Ada udang di balik nasi.
Kini tinggal Suzy yang menemani Jaebum. Suzy menatap lekat-lekat Jaebum. Ada sedikit luka di pelipis Jaebum. Serta kondisi kaki yang sedang diperban.
“Annyeong, Suzy...”  mata Jaebum mulai terbuka. Rupanya pengaruh obat bius itu sudah hilang.
“Maaf, Jaebum. Baru sekarang aku menjengukmu.” Ujar Suzy, cukup sulit mengatakannya.
“Seharusnya aku yang minta maaf. Aku gak memberitahumu soal ini.” Jaebum berkelit.
“Ehm.. katanya kamu tabrakan juga sama mobilnya Yoona? Terus, sekarang Yoona ada di mana?”
“Aku masih belum bisa mengingat kejadian kemarin. Tapi, Ibu bilang, Yoona ada di ruang ICU. Aku juga belum bisa menjenguknya. Aku masih gak bisa mentoleran sikapnya kemarin. Gara-gara dia, aku gak bisa datang ke acara pesta ulang tahunmu. Mianhae, Suzy” Ujar Jaebum pelan, karena masih dalam keadaan lemah.
Suzy tersentak. Ia terdiam beberapa menit. Entah, memikirkan apa? Yang pasti ada hubungannya dengan ucapan Sueki yang bilang bahwa Jaebum nekad ngebut untuk menghadiri acara penting.
“Mianhae, Jaebum. Kenapa terlalu dipaksakan? Jika Yoona memang melarang kamu datang ke acara itu, lebih baik kamu gak usah nekad ngebut-ngebutan. Aku gak mau, kamu sakit di detik-detik menjelang Ujian Nasional ini. Aku gak mau Jaebum, bintang sekolah, gak lulus gara-gara muridnya sendiri.” Suzy sedikit menitikkan air mata.
“Aku juga gak mau, Suzy, seorang siswi yang punya mimpi besar, gak lulus gara-gara gurunya sendiri.” Jaebum memperlihatkan senyumannya untuk menghibur Suzy.
“Jaebum, aku merasa bersalah atas kejadian ini.” Ujar Suzy menghentikan tangisannya.
“Iya aku tahu. Oleh karena itu, kamu harus bertanggung jawab.” Sahut Jaebum. Suzy heran, lantas menatap Jaebum dengan penuh penasaran.
“Kamu harus membayarnya dengan menjadi siswa terbaik di sekolah pada Ujian Nasional tahun ini. Simpel, kan?”
“Omo?! Simpel ? Itu tanggung jawab besar menurutku. Mana mungkin, seorang Suzy bisa mengalahkan Jaebum. Aku gak bisa, karena aku tahu, kamu yang akan jadi siswa terbaik itu!” Seru Suzy menaikkan alisnya.
“Aku akan mengalah untukmu. Karena menurutku, orang yang tekun itu akan mengalahkan semua lawannya, walaupun lawannya itu sangat cerdas. Ketekunan itu kuncinya...! Kunci keberhasilan.” Ujar Jaebum menyemangati Suzy
“Tapi, bagaimana pun besarnya ketekunan itu, kalau memang gak bisa, mau diapakan? Aku juga gak mau, ratingmu sebagai siswa teladan menurun. Dan... bukankah itu akan membuat penyesalanku bertambah?  Karena... gara-gara aku, kamu rela mengalah untuk menjadi alumni terbaik.” Ryu agak memkeras ucapannya. Sesaat kemudian, ia melihat sebuah gelang di pergelangan tangan Jaebum. bracelet ?
“Jae, gelang itu?  Mirip sekali dengan punyaku. Hadiah yang kamu berikan saat ulang tahunku kemarin.” Ujar Suzy sambil melirik gelang yang dipakai Jaebum.
“Ya, memang. Aku sengaja membeli gelang couple ini untuk kita berdua...” Jaebum menarik pergelangan tangan Suzy lantas mendekatkannya dengan pergelangan tangannya.
“Nah, lihatkan. Gelang kita sama-sama mempunyai initial SJ. “ ujar Jaebum.
“Apa artinya?” Tanya Suzy.
“Yang pasti bukan Super Junior ”
“  Tapi.... Suzy-Jaebum”  Sambung Jaebum tersenyum. Suzy ikut tersenyum, hatinya berbunga-bunga, dan tiba-tiba ia melihat pelangi di mata Jaebum.
“Aku ingin gelang ini menjadi kenangan setelah kita lulus dan pisah universitas nanti.” Lanjut Jaebum.
Suzy meneteskan air matanya. Ia sangat bersyukur bisa mengenal Jaebum. Guru terbaik-baik-baik-baik dan sempurna menurutnya.

“Jae, aku memutuskan untuk memilih universitas yang sama denganmu. Aku gak ingin berpisah dengan guru terbaikku. Aku ingin kamu selalu ada di dekatku, selalu menjadi inspirasiku.” Ujar Suzy.


02 Maret 2013

Blue Library (fanfiction)

❤ Good Morning ◕‿◕ Afternoon ❤ Evening ღ Night ◕‿◕


Annyeong!!!!  kemarin aku posting fanfic punya orang, kan? *masabodo:p
nah, kali ini aku yang posting fanfic ala gaje-gaje gitu ceritanya. sebenarnya, fanficnya belum  selesai #taudehkapanselesainya?
tapi, mau hari ini aja postingnya...  biar bikin penasaran *emang sapa yg penasaran? pede bgt sihlu:p
tau ah...  gelap!!   
langsung saja,                #checkitout..






Title : Blue Library
Author  : Ramadhan Liya 
Genre : Fantasy, High School, Romance, SciFi
Maincast : Im Jae Bum (JJ Project), Tiffany Hwang (SNSD), Jang Woo Young (2PM), Lee Ji Eun    
                (IU),  Jeon Bo Ram  (T-Ara), Kim Ki Bum/ Key (SHINee)




Cuaca dingin bersama turunnya salju sore itu membuat Tiffany yang sedikit alergi dengan dingin menghidupkan tungku perapian di lantai empat rumahnya. Secangkir coklat hangat menemaninya selain sweater tebal dan earphone biru.

You’re not alone, together with stand..

Ringtone avril lavigne, salah satu bigfav Tiffany muncul dari handphone tipis berwarna biru.
“hallo.. assalamualaikum, yu.. Ada apa? Kontes masak di sekolah? Kapan? Haa... besok?! Kenapa baru kabarin sekarang? Aku kan mau ikut! Apa?! Ke sekolah sekarang juga? Tapi, di luar masih bersalju.  Apa harus?  Ya, sudah aku ke sana. Assalamualaikum..”
Selesai menjawab panggilan dari IU, sahabatnya, Tiffany beranjak turun dari lantai empat dengan menggunkan lift di pojok ruangan. Ia menekan tombol nomor 2, lalu ‘Ok’.

Setibanya di lantai 2, tempat di mana kamarnya berada, Tiffany menggeledah lemari rahasianya. Lemari kecil di balik cermin besar. Kecil, sih...  tapi itu dari luar. Kalau isinya, jangan tanya seberapa banyak yang bisa disimpan, barang satu rumah pun bisa disimpan di sana.

Tiffany mencari barang yang diperlukannya dengan menekan-nekan kata kunci pada sebuah alat seperti kalkulator kecil di samping lemari. Ia menekan tombol-tombol hingga membentuk kata ‘buku’ dan ‘masak’. Ajaib sekali.. semua barang yang berhubungan dengan buku dan masak keluar secara bersamaan. 

Tiffany menemukan benda yang dicarinya. Sebuah buku bersampul biru dengan judul “blue recipe”. Buku yang sebenarnya hanya buku resep masakan, namun cukup meragukan dan unik bagi Tiffany. Ia menemukan buku itu secara tiba-tiba saat acara perkemahan di bukit bluemountia  5 bulan yang lalu. Saat itu ia sedang melakukan hobi sekaligus rutinitasnya di bawah pohon aneh berbuah biru. Tanpa sengaja, buku blue recipe muncul beserta sparkle-sparklenya seolah-olah itu sebuah keajaiban.

Well, bagaimana kalau aku mempelajari resep ini saja? Cupbluecakes !” serunya.
#


Sesampainya Tiffany di sekolahnya, SMA Jeonjin,...
“Fany....!!!” teriak  IU


BERSAMBUNG.....................................