Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Exorc1st, full of memories ~

9.7.16 Ramadhan Liya 3 Comments Category : ,



Random 36 Personil Exorc1st


Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Selamat pagi, fellas... dan selamat for do fasting.

Hari ini, I'll make a special post about my senior high school's story. 
Maybe it's can't be longer because I think this lifeschool to short for us. Why ? 

Rasanya baru kemarin kami menginjakkan kaki di lobi SMAMA ini, dengan membawa map dan beberapa lembar kertas yang merupakan syarat pendaftaran. 
Kami tidak mengenal satu sama lain, SEBELUMNYA.
Namun, mungkin beberapa di antara kami sudah ada yang saling mengenal karena pernah berteman di menengah pertama atau tsanawiyah, atau sekolah dasar maupun taman kanak-kanak.
Namun, secara garis besar, kala itu kami belum mengenal satu sama lain.

And how my first impression when I come to this school ?

Ya, rasanya itu damaiiiii bangetttt. Udaranya sejuk. Warganya murah senyum, dan... pokoknya ini sekolah yang sederhana namun menenangkan banget. 
and I think this is a reason for me to don't regret for my choice, because I leave SMANSA and choice SMAMA.

Tapi, bukan hanya  alasan itu yang membuat saya tidak kecewa dengan pilihan saya ini. Alasan itu hanyalah SATU dari beberapa alasan yang membuat saya cinta dengan sekolah ini.

Alasan lainnya adalah sekolah ini mempertemukan saya dengan berbagai karakter manusia, entah dari segi apa saja. Karakter tersebut seolah menunjukkan kepada saya bahwa memang setiap orang mempunyai sisi yang berbeda-beda. Namun, pada dasarnya selalu ada sisi terang pada mereka yang bakalan menjadi nilai positif atau nilai lebih, sehingga setiap karakter itu mempunyai manfaat dan keunggulan masing-masing. Dan dari sini, saya belajar bahwa bagaimanapun karakter seseorang, jangan pernah pandang sebelah mata, karena bisa saja ada karakter lain dari mereka yang ternyata sangat bermanfaat bagi orang lain. You know what I mean ? Ribet ya memahaminya ? Haha :)

Dan dari situ saya juga sadar bahwa memang ternyata kasih sayang itu buta. Ia tak mengenal bagaimana perlakuan orang itu padanya, ia tak peduli, tapi entah mengapa ia sangat sayang dengan orang itu. Sama kayak si A itu cuek pada si B, tapi kok B tetap care sama A. Lalu, si A tadi juga punya sisi lebih, ia ternyata juga care, tapi sama si C yang ternyata cuek padanya. Dan si C yang cuek itu ternyata juga punya rasa care, sama si B. 

Begitulah kasih sayang... sering buta, namun ia tak pernah salah. Yang salah adalah kita mengabaikan orang yang care sama kita. Lalu, ketika orang yang kita abaikan itu sudah tidak memperhatikan kita lagi, kita malah mencari-cari perhatiannya kembali, mengemis-ngemis perhatiannya, dan baru sadar kalau sebenarnya mengabaikan seseorang yang care dengan kita itu SALAH. 
Dan itulah yang terjadi pada saya... saya SALAH. Bukan salah dalam memberikan perhatian, tapi salah dalam mengabaikan perhatian.

Oleh karena itu, saya minta maaf pada teman-teman yang selama ini mungkin perhatian dengan saya, ingin saya ikut berbaur tersenyum dengan kalian, ikut nimbrung dan tertawa bareng, namun saya nya terkesan cuek dan hanya menyimpulkan senyum. Bukan mengabaikan, mungkin itu yang tepat. Saya hanya ingin mencari the match pieces of me. Ibarat sebuah potongan puzzle, saya mencoba bagian lain yang cocok untuk saya. Dan semua orang juga mungkin begitu, mencari potongan puzzle yang match, mencari lingkungan yang cocok untuknya, mencari orang yang cocok untuknya, walaupun ia tahu ada orang lain yang mencoba memberikan perhatian lebih padanya.

Terlepas dari cocok-cocokan itu, saya sangat senang dengan kelas Mipa 1. Saya bersyukur menjadi bagian dari mereka. Yaa seperti yang saya katakan tadi, mungkin memang benar kelas ini penuh dengan karakter-karakter yang berbeda, bahkan berlawanan kutub, namun setiap dari mereka punya warna cerah masing-masing yang dapat menyinari warna gelap teman-temannya yang lain. 

Tapi, ada satu lifeschool's tester yang belum bisa saya buktikan saat saya berada di MIPA 1.
  • Apakah seseorang yang ceriwis akan awet atau cocok berteman dengan seseorang yang pediam ?
  • Atau apakah seseorang yang alim akan cocok berteman dengan seseorang yang suka bikin onar ?
  • Dan apakah seseorang yang suka olahraga akan cocok berteman dengan seseorang yang jenius tapi lemah ?
  • Serta apakah seseorang yang cepat memahami pelajaran akan cocok berteman dengan yang lambat dalam memahami pelajaran ?


Beberapa ilmu filsuf mungkin akan mengatakan bahwa itu sangat cocok, karena mereka akan saling melengkapi. Namun bagaimana dengan kenyataannya, saat praktik di lapangannya ?
Hal ini belum bisa saya buktikan, karena saya rasa di MIPA 1 malah yang cocok adalah yang sama. 
Si alim sama si alim, si pendiam sama si pendiam, si suka olahraga sama si suka olahraga, dan seterusnya.

Biarlah itu hanya menjadi teori belaka. Karena kebahagian seseorang itu bebas. Ia bebas memilih zona mana yang membuatnya nyaman.

***
Astaghfirullah....  ini postingan melebar kemana-mana. Intinya apa, isinya apa? hedeh.. hedeh.. :p
katanya pendek, kok ini cukup panjang yaa ?  wkwkk :v

Balik ke judul, full of memories ~
Seperti apa sih kenangan-kenangan mengenai kelas ini yang masih bisa saya putar di ingatan ?

Sebenarnya, kalau bicara mengenai 'kenangan' bakalan gak ada habisnya, karena emang banyak banget. Apalagi kalau mesti diingat atau diputar kembali, kayaknya ceritanya gak bisa utuh, deh. 

Tapi, kalau memori diputar kembali, cuma ada segelintir yang bisa saya ingat.. 
Awal masuk kelas, yaa.. kami adalah Exorc1st, siswa-siswi dengan karakter random dikumpulkan dalam kelas yang sama, yakni X MIPA 1. Kenapa jadi kelas IPA sekarang diberi nama menjadi kelas MIPA ? Karena itulah karakteristik kurikulum baru kita, K-13. Entah mengapa harus diubah ? Padahal gak ngaruh juga, kan, penambahan hurup M itu ? :v

Seperti halnya murid baru, mungkin itu yang semua siswa rasakan. Aku melihat wajah-wajah baru, ada yang oriental, ada yang imut, dan pokoknya entah mengapa, kok kelas IPA tu anak-anaknya pada bersih semua, ya? Alhamdulillah, ya.. berarti kami sudah menerapkan poin 'kebersihan dan kesehatan'. Alhamdulillah gitu, kami match  aja di kelas IPA.

Nah, kalau mengenai siswa IPA yang katanya pada pintar, berkacamata, dan kaku. Hmm... kayaknya harus diubah persepsinya. Sedikit saja, sih.. soalnya persepsi itu ada yang benernya juga. Emang kenapa ? Karena kalau menurut kelas lain, baik kelas IPA 2 - IPA 4, dan SOS 1 - SOS 3, serta BAHASA, katanya emang kelas kami yang paling kalem... wkkk
Kok gitu, ya, pemikiran kelas lain? Padahal tiap gak ada guru, kelas kami bagai taman kanak-kanak. Hheee.. Kalau cewek pada ngumpul tu ke grup masing-masing. Kalau cowok ngumpul jadi satu aja, soalnya jumlah siswa cuma 10 orang. Tapi, walaupun cuma 10, masya Allah, suaranya mendominasi. *suara ribut, maksudnya.
Nah kalo cewek pada ngumpul ke grup masing-masing, jangan tanyakan seberapa hebohnya, karena kami fokus pada kehebohan grup masing-masing. 

Misalkan saja, nih, grup saya sama sahabat-sahabat saya. Kami terkumpul oleh ketidaksengajaan. Kami punya kepekaan, entah mengapa mereka pada tahu isi hati saya, misal lagi galau, senang, bingung, bosan, dll. Makanya, kalau mereka lagi lihat muka saya yang 'flat' dihadapan mereka, pasti langsung diserbu sama guyonan dan candaan mereka. Sampai-sampai, yang tadinya berniat ingin membuat ketawa, malah buat aku nangis saking gak bisanya nahan tawa. Emang sih, aku sering memasang ekspresi 'flat', tapi kalau ekspresi 'flat' itu dipasang saat berhadapan sama grup kami yang gajelas itu, mereka buru-buru deh ngelawak. Itu alasannya mengapa ekspresi aku dihadapan grupku berbeda dihadapan yang lain. 

Dan the most important thing, kami tetap nyatu kalaupun punya grup masing-masing dalam kelas. Itu alasannnya mengapa kelas ini sangat spesial. Jujur, nih, yaa.... teman-teman di kelas saya ini emang yang the best... SEMUANYA. Toleransinya, kepekaannya, humornya, kecerdasannya, kepemimpinannya, tanggungjawabnya *mungkin ini harus diperbaiki lagi, terutama tanggungjawab kebersihan kelasnya. INI DIPERBAIKI, yaa.... buat kedepannya. Kan nanti kita bakalan berumah tangga, jadi tanggungjawab kebersihan bukan hanya dilakukan oleh perempuan.

Kalau masalah keagamaan, jangan tanya.... kelas kami punya banyak ustadz dan ustadzah.
Kalau masalah keuangan, jangan tanya... kelas kami punya bendahara yang super cerdas, handal, dan cangkal menagihi.
Kalau masalah kepemimpinan, jangan tanya... kelas kami punya calon-calon pemimpin yang hebat, bahkan ketua OSIS ada di kelas kami.


Tumbuh dewasa bersama, yaa kami tumbuh bersama. bukan hanya tumbuh secara fisik, tapi juga secara mental. Dalam artian, sedikit demi sedikit kami mulai bisa menyelesaikan masalah yang cukup rumit dengan diskusi bersama. Meski, kadang beberapa di antara kami belum bisa berkontribusi secara maksimal, bahkan ada yang tidak datang saat rapat kelas. 
Di bawah ini beberapa foto pertumbuhan kami dari kelas 11 sampai 12. Duh ternyata kelas 10 nya gak nyimpan.




With Bapak Yazan. Abi kami di kelas XI MIPA 1







With Ibu Rostini. Mama kami di kelas XII IPA 1.






Segitu dulu, yaa memories yang bisa saya tuangkan dalam postingan ini. 
Mudahan nanti memori-memori lain dapat saya cantumkan lagi di postingan ini.
Sudah malam, nih, 

Good night..
Byee *

RELATED POSTS

3 Comment

  1. I❤u ayaaa... blog yg bikin terharu :')))) i miss uuuuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Love and miss uuu too, della ~ ;)

      Hapus
  2. I❤u ayaaa... blog yg bikin terharu :')))) i miss uuuuu

    BalasHapus

NO HARSH WORDS
please, don't SPAM here!
I'll reply if I didn't busy -.-