Tampilkan postingan dengan label fanfic Im Jae Bum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fanfic Im Jae Bum. Tampilkan semua postingan

30 September 2013

He is My Teacher (fanfiction by ramadhan liya)



Sebenarnya, aku sulit melakukan ini. Aku hanya mengagumimu. Semua yang kau miliki, kecerdasanmu, kedisiplinanmu, bahkan gerak-gerikmu. Mianhae...  aku memang gak pernah berharap lebih. Tapi, maukah kau menjadi sahabatku?

Jaebum menatap lekat-lekat surat beramplop biru muda yang ia temukan di dalam laci mejanya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sebentar, sesekali berdehem.
“Dasar Ms. X ....  Bagaimana aku bisa bersahabat denganmu? Namamu aja gak dicantumin”, katanya sembari melipat kembali surat itu dan menyimpannya ke dalam tas ungu bergambar Doraemon. Tanpa Jaebum sadari, ternyata di balik pintu kelasnya, ada seorang siswi yang sedang mengintip. Siswi itu mencoba bersembunyi di balik pintu besar bertuliskan  kelas XII-IPA 2.  Gerak-gerik siswi itu ternyata diketahui juga oleh Sueki, sahabatnya Jaebum.
“Suzy, sedang apa kau di sini ? Kamu mau ketemu sama Ji ?” tanya Sueki setengah menggoda.
Suzy jadi salah tingkah. Pipinya memerah, tangannya bergetar-getar, dan tiba-tiba lari dengan cepat ke kelasnya. Jaebum terkejut dan menghampiri Sueki.
“Ada apa, Suek ?”
“Murid lu, Jae. Gak tau kenapa? Tiba-tiba dia kabur sendiri.” Jawab Sueki.
Jaebum berpikir sejenak. Apakah Suzy ada hubungannya sama surat tadi ?
#
Bel di SMA Fillizo berbunyi  4 kali, tanda bahwa jam istirahat sudah berakhir dengan kata lain ‘saatnya semua siswa masuk kelas dan belajar kembali’.
Terlihat seorang guru sedang mengobrol dengan seorang siswi sambil berjalan menuju kelas Jaebum.
“Selamat siang semua! Di sini, Ibu bawa murid baru. Silakan perkenalkan dirimu, Yoona.” Kata wali kelas XII-IPA 2.
Annyeong, guys... Nama saya Im Yoon Ah. Panggil saja Yoona. Saya pindahan dari Billboard Genie Senior High School,” kata Yoona sambil tersenyum manis. Semua siswa, kecuali Jaebum serasa terhipnotis dengan senyuman Yoona. Memang ! Karena Yoona salah satu model populer yang mungkin sudah dikenal oleh semua siswa di Fillizo.
“Silakan kamu cari tempat duduk,” suruh Bu Wali.
Yoona memandangi sebentar seluruh siswa di kelas itu. Matanya seakan tertarik oleh gaya magnet Jaebum yang kalem. Tanpa basa-basi, ia kemudian memilih duduk di pojok nomor 3, sebelahan sama Jaebum. Yoona mencoba berkenalan dengan Jaebum.
“Hay, bolehkah aku tahu siapa namamu?”
“Oh, namaku? Perkenalkan, aku Im Jae Bum.”
“Salam kenal Jaebum !” ujar Yoona tersenyum. Jaebum ikut tersenyum, namun tak semanis saat tersenyum dengan Suzy.
Pelajaran hari itu adalah Matematika.  Tak salah Suzy memilih Jaebum sebagai guru lesnya, karena Jaebum lah yang menjadi kebanggaan guru matematika dan mungkin guru Sains Fisika, Sains Astronomi, Bahasa Inggris, serta Teknologi . Selama 3 tahun di Fillizo, Jaebum tak pernah absen diikutkan lomba dan tak pernah mengecewakan.  Tentu saja, ia menjadi idola di Fillizo.
Jaebum tak sengaja menunjukkan kelihaiannya dalam menyelesaikan soal matematika. Sehingga, Yoona menjadi kagum dengan Jaebum.
Omo... Jaebum ! Kau hebat sekali ! Selama aku di sekolah, aku gak pernah ketemu siswa secerdasmu. “ Puji Yoona dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan terlalu memuji ”, ujar Jaebum merendahkan diri.
Not, Im serious! You’re perfect! Kalau boleh, aku ingin memintamu menjadi guru les matematikaku. Kebetulan, aku sangat lemah dalam pelajaran ini. Please ..” pinta Yoona dengan senyumnya yang sangat indah.
“Apa?! Apa kamu yakin? Masalahnya, aku sudah punya satu orang murid. Dan aku terlalu sibuk untuk menjadi pengajar dua orang murid” ujar Jaebum.
“Kumohon!! Kalau tahun ini aku gak lulus ujian matematika, aku bakal diasingkan papaku, dan otomatis karirku bakal hancur. Kumohon, Jaebum....” Yoona mencoba menunjukkan bakat actingnya. Ia memasang wajah memelas.
Berkat wajahnya yang cukup membuat orang kasihan, Jaebum pun akhirnya menuruti kemauan Yoona. Betapa senangnya hati Yoona.
#
“Suzy...  tolong ambilkan alat peraga tengkorak di kelas XII-IPA 2, ya!” perintah Hwarin, ketua kelas XII-IPA 1.
“Percuma, Rin ! Mana berani anak mami ini ngambil tengkorak. Pikir dong, Rin...!” Ejek Sueki yang sekelas dengan Suzy.
Suzy memang sudah biasa dengan ejekan Sueki. Karena baginya, Sueki itu bukan tukang ejek, tapi tukang cari masalah. Dan Suzy tidak suka dapat masalah.
“Suek.. Suek.. Jangan berlagak gak tau, deh! Suzy itu gak akan takut ke kelas sana. Di sana, kan, ada pangerannya. Haha.....” ejek Hwarin. Suzy memang selalu diejek di kelasnya. Tapi, ejekan itu hanya bersifat lelucon. Dan seisi kelas juga tahu hal itu. Jadi, Suzy merasa enjoy-enjoy saja.
“Baiklah. Aku ambil.. tapi bisakah kalian berhenti mengejekku?” Suzy memberanikan diri.
“Oh, tidak bisa...” Koor semua siswa serentak. Tawa Sueki semakin menjadi-jadi.  Karena dialah yang paling bersemangat untuk membuat lelucon ke Suzy. Dan, menurut gosip sekolah, ternyata Sueki itu pernah naksir sama Suzy.
Suzy pun beranjak pergi ke kelas XII-IPA 2  di mana alat peraga itu berada.
Sesampainya di sana, ia melihat Jaebum sedang asyik ngobrol dengan seorang siswi baru yang tak dikenalnya. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi, Jaebum kelihatan sangat akrab dengan siswi itu.
“Ehem... “ Suzy sengaja berdehem keras. Jaebum yang dari tadi tak menyadari kedatangan Suzy tiba-tiba kaget.
“Suzy.. ada apa?” tanya Jaebum. Suzy hanya diam. Ia tak mau menjawab ataupun bicara dengan Jaebum. Setelah mengambil alat peraga itu, Suzy langsung pergi ke kelasnya. Sedangkan Jaebum masih bingung dibuatnya.
#
“Jaebum bisakah aku ke rumahmu sekarang juga.
Aku mau bertanya tentang soal-soal matematika tadi siang.
Boleh, ya?!”

Jaebum membaca SMS dengan isi yang sama ke 7 kalinya dari Yoona. Huh.. padahal ia masih ada di rumah Suzy. Ia tak mau meninggalkan tanggung jawabnya sebagai guru les private Suzy. Tapi, Yoona terus saja memaksa dan mengirim sms berkali-kali ke ponselnya. Dan itu, membuat acara les Jaebum dan Suzy terganggu.
“Ada apa, Jae?” tanya Suzy heran melihat wajah Jaebum yang gelisah.
“Apa ada masalah? Atau ada acara mendadak?” Lanjut Suzy.
Mianhae, Suzy. Kayaknya sampai di sini dulu, ya, pelajarannya. Aku harus pergi.” Ujar Jaebum.
“Baiklah. Jika itu memang penting.” Ujar Suzy. Wajah Jaebum kelihatan sedikit menyesal, begitupun dengan Suzy yang kelihatan kecewa. Dengan berat hati, Jaebum pulang ke rumahnya.
#
Semakin hari, hubungan Suzy dan Jaebum semakin merenggang.  Jaebum sering tak datang ke rumah Suzy dengan alasan yang beragam. Saat les pun, Suzy tak bisa berkonsentrasi. Ia merasa Jaebum tidak mempedulikannya lagi. SMS Jaebum jarang dibalas oleh Suzy. Suzy merasa ia tak ada harganya di mata Jaebum.
Hingga suatu hari. Hari yang sangat berharga bagi Suzy, karena pada hari itu, umurnya tepat 17 tahun. Papi dan Mami Suzy mengadakan pesta besar-besaran. Namun, Suzy merasa risih dengan pesta itu. Tepatnya, ia memang tidak bisa bergaul dan bersenang-senang saat pesta ulang tahun seperti orang kebanyakan. Ia lebih menginginkan acara sederhana seperti syukuran dengan mengundang para anak yatim ke rumahnya yang mewah itu. Dan tentunya, Jaebum harus ada.
Namun, pada acara pesta itu, Jaebum malah tidak hadir, justru Sueki yang hadir dan menghiburnya.
Seungil cukka hamnida, Suzy!” ucap Sueki sambil menyerahkan kado besar berwarna biru muda. Bagaimana ia tahu warna kesukaan  Suzy?
“Gumawo, Suek.  Emm..  Jaebum gak datang? “ tanya Suzy.
Sueki kelihatan gelisah, dan mencoba mencari kalimat yang tepat sebagai jawabannya.
“Ah... mungkin dia sedang sibuk. Dia kan memang gitu, sibuk belajar buat UN sama latihan dance buat acara pentas seni tahunan.”
“Oh, segitu sibuknya kah, dia?” Suzy kelihatan sangat kecewa.
“O ya. Dia menitipkan ini untukmu. Katanya, dia minta maaf karena gak bisa hadir ke sini.” Ujar Sueki sembari menyerahkan kado kecil dengan hiasan boneka rilakkuma yang mungil.
Suzy mengambilnya dan menyimpannya. Sepertinya, ia lebih suka dengan kado kecil daripada kado besar.
Malam semakin larut dan pesta pun berakhir tanpa kegembiraan di hati Suzy.
#
“Hey, katanya, dia kecelakaan, ya?” bisik Minai, siswi di kelas Suzy yang kerjaannya tukang gosip, dan suka ikut campur urusan orang.
“Ya gitu! Ditabrak. Tapi, gue pikir itu salah dia juga, sih.. Dia kan yang ngebut sendiri.” Ujar temannya.
Maybe. Tapi, kasihan gue ngelihatnya. Kata sahabatnya, Sueki, dia lumpuh. Gak bisa jalan. Apalagi  gerak!”
“Terus.. gimana nasib pentas nanti? Dia kan dancer terhebat dan yang bikin orang banyak nonton.”
No comment. Gue juga pusing!”
Suzy tak sengaja mendengar gosipan mereka. Ia mencerna kalimat demi kalimat yang mereka ucapkan. Sahabat Sueki? Dancer terhebat?  Ia meneguk liur sejenak, lantas mengambil  kesimpulan bahwa orang yang dibicarakan Minai adalah Jaebum.
Tanpa basa-basi, Suzy langsung pergi mencari Sueki di habitatnya, Cafeteria.
Sorry, Suek. Aku mau nanya.” Ujar Suzy ngos-ngosan.
“Tenang, Zy. Ada apa, sih?”
“Kamu berangkat sekolah bareng Jaebum,  gak, tadi?”
“Eh.. em, oh.. enggak.” Sueki rupanya agak kesulitan mencari jawaban.
“Terus.. Jaebum hadir gak hari ini?” Tanya Suzy cemas. Sueki kelihatan gelisah.
“Suek. Tolong jawab! Apa benar Jaebum kecelakaan?”  Gertak Suzy.
“Mianhae, Suzy. 2 Hari yang lalu Jaebum memang kecelakaan. Ketika itu ia pulang dari rumah Yoona.” Jawab Sueki terbata-bata.
“Yoona? Jadi, selama ini, dia benar-benar  dekat sama Yoona. Ya ampun.. kenapa aku jadi...“      perkataan Suzy cepat dipotong Sueki.
“Sebentar, Zy!  Jaebum itu gak punya hubungan apa-apa sama Yoona. Jadi, Jaebum sering ke rumah Yoona itu karena...  yaa.. karena dipaksa. Dipaksa oleh Yoona dan papanya Yoona.  Aku sendiri baru tahu kalau papanya Yoona itu atasan  ayahnya Jaebum.  Mau tidak mau Jaebum harus menuruti perintah papanya Yoona.....” Ujar Sueki. Terus dipotong oleh Suzy
“....dengan alasan menjadi guru les privatnya Yoona?  Namun, Yoona salah menafsirkan sifat care Jaebum. Kamu tahu sendiri, kan? Jaebum itu selalu perhatian dengan muridnya. Mungkin itu yang membuat Yoona berpikiran bahwa Jaebum menyukainya.” Lanjut Suzy.
By the way,  kamu juga menafsirkannya seperti itu, kan?” goda Sueki.  Pipi Suzy langsung berubah menjadi merah padam.
“Nah, sore itu setelah les privat dengan Yoona selesai, Jaebum berkeinginan untuk pulang segera karena ada urusan penting. Bodohnya, Jaebum memberitahukan urusan penting itu ke Yoona. Akibatnya, Yoona melarang keras Jaebum untuk pulang. Malah, ia mencari alasan agar Jaebum mau ikut acara keluarganya di restoran. Ya pastilah, Jaebum gak mau. Karena urusan itu sangat penting. Jaebum nekad pergi mengendarai motornya sambil ngebut-ngebutan dengan Yoona yang mengejarnya dengan mengendarai mobil.” Ujar Sueki. Suzy memotong lagi.
“Astaga, Jaebum!!  Mengapa ia senekad itu.  Apa urusan itu sangat penting?” ujar Suzy sedikit terisak dan mulai meneteskan air mata.
“Engg.. nanti kau juga akan tahu. Jadi, karena di kejar, Jaebum jadi ngebut gak jelas. Sebenarnya, Jaebum itu gak jago ngebut. Tapi hari itu, ia nekad ngebut. Karena beban pikiran yang banyak, konsentrasi Jaebum buyar.  Naas, Jaebum menabrak mobil gerbong. Parahnya lagi, mobil Yoona ikut tertabrak mobil gerbong itu. Ibunya Jaebum menghubungi aku, dan aku segera ke rumah sakit menemui  Jaebum. Sesaat ketika Jaebum masih sadar, dia menitipkan kado untukmu.”
“Kamu jahat, Suek Kenapa baru sekarang kamu memberitahukannya ke aku?” Suzy agak kecewa. Emm. Mungkin sangat KECEWA.
Mian, Suzy.  Jaebum melarangnya. Katanya, nanti persiapanmu buat ujian nasional rusak gara-gara kondisinya yang sekarang.”
Kini tangisan Suzy tak terbendung. Sueki jadi kasihan dengannya. Walaupun masih ada rasa cemburu terhadap sahabatnya, Jaebum. Suzy memohon agar setelah pulang sekolah Sueki bisa mengantarkannya ke rumah sakit tempat Jaebum di rawat. 
#
Setibanya di depan pintu kamar di mana Jaebum berada, Suzy agak merasakan sedikit nervous. Entahlah..  Suzy memang sedikit pemalu.
“Assalamualaikum, Jaebum.” Salam Sueki sambil mengetok pintu.
“Waalaikumsalam. Silakan masuk. “ Jawab seorang wanita yang kira-kira sudah menginjak 40 tahun-an tapi sangat cantik membukakan pintu dan mempersilakan mereka masuk.
“Kamsahmida” Ujar Suzy.
“Eh, Sueki.. Suzy juga datang?” Tanya wanita  yang sebenarnya ibu Jaebum. Ia memang sudah kenal dengan Suzy, karena katanya Jaebum sering menceritakan Suzy kepada ibunya itu.
“Ibu keluar sebentar, ya. Mau tebus resep. Silakan duduk-duduk dulu. Jaebum masih tidur. Mungkin gara-gara obat bius tadi.” Kata Ibu Jaebum ramah dan langsung ke luar.
“Suzy, aku mau cari minum dulu, ya.” Sueki ikut-ikutan ke luar. Ada udang di balik nasi.
Kini tinggal Suzy yang menemani Jaebum. Suzy menatap lekat-lekat Jaebum. Ada sedikit luka di pelipis Jaebum. Serta kondisi kaki yang sedang diperban.
“Annyeong, Suzy...”  mata Jaebum mulai terbuka. Rupanya pengaruh obat bius itu sudah hilang.
“Maaf, Jaebum. Baru sekarang aku menjengukmu.” Ujar Suzy, cukup sulit mengatakannya.
“Seharusnya aku yang minta maaf. Aku gak memberitahumu soal ini.” Jaebum berkelit.
“Ehm.. katanya kamu tabrakan juga sama mobilnya Yoona? Terus, sekarang Yoona ada di mana?”
“Aku masih belum bisa mengingat kejadian kemarin. Tapi, Ibu bilang, Yoona ada di ruang ICU. Aku juga belum bisa menjenguknya. Aku masih gak bisa mentoleran sikapnya kemarin. Gara-gara dia, aku gak bisa datang ke acara pesta ulang tahunmu. Mianhae, Suzy” Ujar Jaebum pelan, karena masih dalam keadaan lemah.
Suzy tersentak. Ia terdiam beberapa menit. Entah, memikirkan apa? Yang pasti ada hubungannya dengan ucapan Sueki yang bilang bahwa Jaebum nekad ngebut untuk menghadiri acara penting.
“Mianhae, Jaebum. Kenapa terlalu dipaksakan? Jika Yoona memang melarang kamu datang ke acara itu, lebih baik kamu gak usah nekad ngebut-ngebutan. Aku gak mau, kamu sakit di detik-detik menjelang Ujian Nasional ini. Aku gak mau Jaebum, bintang sekolah, gak lulus gara-gara muridnya sendiri.” Suzy sedikit menitikkan air mata.
“Aku juga gak mau, Suzy, seorang siswi yang punya mimpi besar, gak lulus gara-gara gurunya sendiri.” Jaebum memperlihatkan senyumannya untuk menghibur Suzy.
“Jaebum, aku merasa bersalah atas kejadian ini.” Ujar Suzy menghentikan tangisannya.
“Iya aku tahu. Oleh karena itu, kamu harus bertanggung jawab.” Sahut Jaebum. Suzy heran, lantas menatap Jaebum dengan penuh penasaran.
“Kamu harus membayarnya dengan menjadi siswa terbaik di sekolah pada Ujian Nasional tahun ini. Simpel, kan?”
“Omo?! Simpel ? Itu tanggung jawab besar menurutku. Mana mungkin, seorang Suzy bisa mengalahkan Jaebum. Aku gak bisa, karena aku tahu, kamu yang akan jadi siswa terbaik itu!” Seru Suzy menaikkan alisnya.
“Aku akan mengalah untukmu. Karena menurutku, orang yang tekun itu akan mengalahkan semua lawannya, walaupun lawannya itu sangat cerdas. Ketekunan itu kuncinya...! Kunci keberhasilan.” Ujar Jaebum menyemangati Suzy
“Tapi, bagaimana pun besarnya ketekunan itu, kalau memang gak bisa, mau diapakan? Aku juga gak mau, ratingmu sebagai siswa teladan menurun. Dan... bukankah itu akan membuat penyesalanku bertambah?  Karena... gara-gara aku, kamu rela mengalah untuk menjadi alumni terbaik.” Ryu agak memkeras ucapannya. Sesaat kemudian, ia melihat sebuah gelang di pergelangan tangan Jaebum. bracelet ?
“Jae, gelang itu?  Mirip sekali dengan punyaku. Hadiah yang kamu berikan saat ulang tahunku kemarin.” Ujar Suzy sambil melirik gelang yang dipakai Jaebum.
“Ya, memang. Aku sengaja membeli gelang couple ini untuk kita berdua...” Jaebum menarik pergelangan tangan Suzy lantas mendekatkannya dengan pergelangan tangannya.
“Nah, lihatkan. Gelang kita sama-sama mempunyai initial SJ. “ ujar Jaebum.
“Apa artinya?” Tanya Suzy.
“Yang pasti bukan Super Junior ”
“  Tapi.... Suzy-Jaebum”  Sambung Jaebum tersenyum. Suzy ikut tersenyum, hatinya berbunga-bunga, dan tiba-tiba ia melihat pelangi di mata Jaebum.
“Aku ingin gelang ini menjadi kenangan setelah kita lulus dan pisah universitas nanti.” Lanjut Jaebum.
Suzy meneteskan air matanya. Ia sangat bersyukur bisa mengenal Jaebum. Guru terbaik-baik-baik-baik dan sempurna menurutnya.

“Jae, aku memutuskan untuk memilih universitas yang sama denganmu. Aku gak ingin berpisah dengan guru terbaikku. Aku ingin kamu selalu ada di dekatku, selalu menjadi inspirasiku.” Ujar Suzy.


02 Maret 2013

Blue Library (fanfiction)

❤ Good Morning ◕‿◕ Afternoon ❤ Evening ღ Night ◕‿◕


Annyeong!!!!  kemarin aku posting fanfic punya orang, kan? *masabodo:p
nah, kali ini aku yang posting fanfic ala gaje-gaje gitu ceritanya. sebenarnya, fanficnya belum  selesai #taudehkapanselesainya?
tapi, mau hari ini aja postingnya...  biar bikin penasaran *emang sapa yg penasaran? pede bgt sihlu:p
tau ah...  gelap!!   
langsung saja,                #checkitout..






Title : Blue Library
Author  : Ramadhan Liya 
Genre : Fantasy, High School, Romance, SciFi
Maincast : Im Jae Bum (JJ Project), Tiffany Hwang (SNSD), Jang Woo Young (2PM), Lee Ji Eun    
                (IU),  Jeon Bo Ram  (T-Ara), Kim Ki Bum/ Key (SHINee)




Cuaca dingin bersama turunnya salju sore itu membuat Tiffany yang sedikit alergi dengan dingin menghidupkan tungku perapian di lantai empat rumahnya. Secangkir coklat hangat menemaninya selain sweater tebal dan earphone biru.

You’re not alone, together with stand..

Ringtone avril lavigne, salah satu bigfav Tiffany muncul dari handphone tipis berwarna biru.
“hallo.. assalamualaikum, yu.. Ada apa? Kontes masak di sekolah? Kapan? Haa... besok?! Kenapa baru kabarin sekarang? Aku kan mau ikut! Apa?! Ke sekolah sekarang juga? Tapi, di luar masih bersalju.  Apa harus?  Ya, sudah aku ke sana. Assalamualaikum..”
Selesai menjawab panggilan dari IU, sahabatnya, Tiffany beranjak turun dari lantai empat dengan menggunkan lift di pojok ruangan. Ia menekan tombol nomor 2, lalu ‘Ok’.

Setibanya di lantai 2, tempat di mana kamarnya berada, Tiffany menggeledah lemari rahasianya. Lemari kecil di balik cermin besar. Kecil, sih...  tapi itu dari luar. Kalau isinya, jangan tanya seberapa banyak yang bisa disimpan, barang satu rumah pun bisa disimpan di sana.

Tiffany mencari barang yang diperlukannya dengan menekan-nekan kata kunci pada sebuah alat seperti kalkulator kecil di samping lemari. Ia menekan tombol-tombol hingga membentuk kata ‘buku’ dan ‘masak’. Ajaib sekali.. semua barang yang berhubungan dengan buku dan masak keluar secara bersamaan. 

Tiffany menemukan benda yang dicarinya. Sebuah buku bersampul biru dengan judul “blue recipe”. Buku yang sebenarnya hanya buku resep masakan, namun cukup meragukan dan unik bagi Tiffany. Ia menemukan buku itu secara tiba-tiba saat acara perkemahan di bukit bluemountia  5 bulan yang lalu. Saat itu ia sedang melakukan hobi sekaligus rutinitasnya di bawah pohon aneh berbuah biru. Tanpa sengaja, buku blue recipe muncul beserta sparkle-sparklenya seolah-olah itu sebuah keajaiban.

Well, bagaimana kalau aku mempelajari resep ini saja? Cupbluecakes !” serunya.
#


Sesampainya Tiffany di sekolahnya, SMA Jeonjin,...
“Fany....!!!” teriak  IU


BERSAMBUNG.....................................






28 Februari 2013

We're best Friend.. but why? (fanfic)

❤ Good Morning ◕‿◕ Afternoon ❤ Evening ღ Night ◕‿◕


hallo...   aku mau share fanfiction Im Jae Bum a.k.a JB  JJ Project a.k.a Jaeboungi

 a.k.a Kaka Jaeb with Park Ji Yeon and Park Hwayoung  a.k.a my eonni 
 and mr. baekyeol a.k.a my aquintance
lets read it...  



Gambar



Title            : We are best Friend.. but Why?
Co Author  : Whiekyuyeonhaeri (Dewi Farihatus Sholihah)
Main Cast  : Park Jiyeon (T-ara)
Ryu Hwayoung (ex – T-ara)
Im Jaebum a.k.a JB (JJ Project)
Byun Baekhyun (EXO)
And others…
Rating        : PG 15-17
Length        : One Shoot
Genre         : Romance, AU
Disclaimer :  annyeong reader!! Akhirnya aku bisa update juga setelah mendapat desakan dari semua orang termasuk keluarga aku, akhirnya ff ini terlahir juga. Semua plot,dan ide cerita adalah pure hasil pikiranku. DILARANG COPAS ff ini TANPA SEPENGETAHUANKU ya…
Semua cast bukan milikku. Mereka milik manajement dan Tuhan semata. (kecuali Gongchan hehehe). FF ini adalah buatanku yang kedua setelah ‘Thank You For Ever Like Me’. Gomawo udah nunggu selama ini!! Keep RCL ya… Gamsahamnida…!!!
Happy reading!!
Jiyeon POV
‘ Bagiku dia wanita tercantik
Bagiku dia wanita yang  menakjubkan
Bagiku dia sesuatu yang berharga
Bagiku dia sangat indah’
Aku selalu mendambakan seorang namjachingu yang akan selalu mengatakan hal itu padaku. Aku selalu mendambakan namjachingu yang selalu membanggakan aku sebagai yeojachingunya. Sejelek apapun aku.
Tapi sepertinya semua itu mustahil, ketika aku menyukai seorang namja aku akan sangat bahagia sampai-sampai rasa bahagia yang aku rasakan sulit untuk aku ungkapkan dengan kata-kata.
Jujur, dari sejak aku SMP hingga sekarang aku SMA, setiap orang yang aku sukai tidak pernah berbalik suka padaku. Apa karena wajahku tidak cantik? Aku sadar aku jelek.
Tapi aku juga ingin mencoba berpacaran seperti teman-temanku yang lain. Bisakah kau mengabulkannya Tuhan? Kali ini saja.
Tapi kenapa saat aku berharap hal tersebut kau tak pernah mengabulkannya?
Padahal aku sungguh-sungguh tulus menyukainya.
Dan kenapa Engkau malah membuat chinguku yang menjadi yeojachingunya? Bukan aku Wae?
Selalu kata-kata itu yang selalu muncul dibenakku setiap aku melihat namja yang kusuka malah berpacaran dengan salah satu sahabat dekatku.
#flashback
“Hwayoung-ah aku menyukainya!!” teriakku.
“nuguya?”tanyanya bingung
“dia…dia Im Jaebum, JB! ” kataku antusias.
“jeongmal? Wuah… chukkae Jiyeon-ah!” balasnya tak kalah antusias
“hehe gomawo. Menurutmu dia menyukaiku tidak?”tanyaku penasaran dengan pendapatnya
“mungkin iya. Coba saja kau menyapanya.” Sarannya membuatku mengangguk mengerti
“geundae (tapi) aku malu” ucapku sambil menutup wajahku malu
“ayolah… jangan kau sia-siakan kesempatanmu ini.” Hwayoung memberiku semangat membuatku semakin percaya diri
“arrayo.. tapi kau harus membantuku ne?” Hwayoungpun mengangguk setuju.
Setelah beberapa minggu aku mulai mengenal JB , kami sering sekali berbalas pesan singkat. Dan tak lupa aku selalu menceritakan perkembangan hubungan aku dan JB pada Hwayoung.
“Hwayoung-ah,, apa aku bisa menjadi yeojachingunya?” aku kembali meminta pendapat pada sahabat terdekatku itu,
“menurutku iya. Lagi pula yang sering aku lihat, dia selalu memperhatikanmu.” Ucapnya memberikan angin segar dihatiku
“jeongmal?? Kau tak berbohongkan?”
“yaa! Kau tak mempercayaiku? Lagipula untuk apa aku berbohong. It’s real Jiyeon-ah.”
“hehe.. gomawo Hwarong-ah” ucapku tulus sembari tersenyum.
Kebahagiaanku terus berlanjut sampai ketika aku mulai mengetahui bahwa JB telah memiliki yeojachingu, Aku kembali menceritakannya pada Hwayoung.
“huhuhu… Hwayoung-ah ottokhae? Wae! Naega wae!! Kanapa harus selalu begini? Huhuhu…” kataku sambil menangis tersedu-sedu.
“sudahlah Jiyeon-ah… mungkin dia memang bukan yang terbaik untukmu.” Ucap Hwayoung menenangkanku. ”uljima ne? hmm bagaimana kalau kau kutraktir eskrim?” lanjutnya.
“baiklah” ucapku sedikit tersenyum. Hwayoung memang tahu makanan kesukaanku, cara menghiburku, dan sebagainya.
Dia memang seorang chingu yang baik.
2 minggu berlalu, aku dan JB masih sering bertukar pesan singkat.
Aku mulai kembali menyukainya. Dan kali ini dia mengatakan suatu hal yang membuatku sangat bahagia dalam pesan singkat kami.
From : JB
To : Jiyeon
‘Jiyeon-ah aku sedang sedih..’
From : Jiyeon
To : JB
‘waeyo? Apa kau bertengkar dengan yeojachingumu?’
From : JB
To : Jiyeon
‘Anhi.. aku sudah putus dengannya.’
From : Jiyeon
To : JB
‘Jeongmalyo? Kenapa bisa begitu :( ‘
Aku menambahkan tanda sedih dalam pesanku, padahal hatiku begitu bersorak, mendengar pesannya
‘wuah… ini hari keberuntunganku’ pikirku dalam hati.
From : JB
To : Jiyeon
‘ne… dia benar-benar yeoja yang egois. Dia selalu ingin dimengerti. Tapi dia tak pernah mengerti aku.’
From : Jiyeon
To : JB
‘Aigoo… jangan sedih begitu, bukankah yeoja masih banyak didunia ini (termasuk aku ucapku dalam hati), jadi jangan bersedih seperti itu Ayo Semangat Fighting!! :) …’
From : JB
To : Jiyeon
‘ehmm… Gomawo Jiyeon-ah, bicara denganmu begitu membuatku tenang Jeongmal gamsahae… :) ‘
Setelah melihat pesan terakhir yang JB kirim padaku aku menjerit kegirangan dan mulai tertidur dengan senyum mengambang diwajahku sapanjang malam.
Seperti biasa esoknya aku kembali menceritakan semuanya pada Sahabatku.
Tapi anehnya, akhir-akhir ini  Hwayoung terlihat sangat semangat apabila aku bercerita mengenai JB.
Aku juga tahu kalau Hwayoung dan JB juga sering saling memberi pesan singkat. Banyak pikiran negative yang muncul di benakku ‘apa Hwayoung juga menyukai Jb? Atau jangan-jangan mereka sudah berpacaran?’
Tapi aku berusaha membunuh pikiran bodoh itu dan terus berpikiran positif, ‘mungkin Hwayoung juga ingin menyelidiki apa JB juga menyukaiku? Ne,, pasti begitu. Dia kan memang sahabat terbaikku’ pikirku.
Hingga suatu hari aku bertengkar hebat dengan Hwayoung karena aku tak sengaja melihat pesan singkatnya dan JB yang terdengar sedikit mesra,
aku terus mencecarnya dengan berbagai pertanyaan agar dia mengaku tapi bukan jawaban yang kudapatkan tetapi malah elakan yang kudapatkan membuat darah diotakku semakin mendidih.
Entahlah mengapa aku begitu berapi-api ingin agar Hwayoung segera mengaku padaku padahal aku hanya melihat pesan itu sekilas dan aku juga sering menggoda teman sekelas namjaku juga dengan pesan seperti itu,
tapi entahlah apa karena instingku yang kini berjalan dan mengendus gelagat berbeda pada mereka berdua, gelagat yang menunjukan bahwa JB sepertinya menyukai Hwayoung.
Aku tidak tahu apa maksud Hwayoung. Dia selalu mengatakan padaku bahwa dia tak menyukai JB, tapi akhir-akhir ini dia selalu membahas tentang JB yang selalu perhatian padanya.
jujur kuakui, aku iri sekaligus cemburu padanya karena JB belum pernah begitu perhatian padaku. Tapi kenapa harus Hwayoung?
Dan Hingga satu hari, ketika Hwayoung mengajak JB bicara berdua di taman sekolah.
‘Ya Tuhan aku berharap Hwayoung tidak membawa-bawa namaku ketika sedang bicara dengan JB.’ Itulah doa yang terlontar dari mulutku. Dan ternyata hal yang paling kutakutkan pun tiba.
Drrrt… drrrrt
Handphoneku bergetar menandakan ada pesan masuk. Saat aku lihat pesan dari siapa, ternyata pesan dari JB. Sebelum membuka pesannya, jantungku berdegup kencang.
From : JB
To : Jiyeon
‘apa benar kau menyukaiku?’
Aku tak membalas pesannya. Lalu ada pesan lagi darinya
From : JB
To : Jiyeon
‘balas pesanku!’
Lalu aku membalasnya
From : Jiyeon
To : JB
‘ne aku menyukaimu. Apa kau puas! Tapi aku tak berharap kau membalas rasa sukaku padamu. Aku hanya ingin mengungkapkan saja’
From : JB
To : Jiyeon
‘terima kasih kau sudah menyukaiku. Tapi aku tak ingin merusak persahabatanmu dengan Hwayoung. Mianhae… sebagai gantinya, aku akan menjauh darimu dan Hwayoung.’
Aku sungguh kaget melihat pesan yang dia berikan untukku.
Oh Tuhan… aku benar-benar lemas… usahaku semua hancur. Aku tak punya kesempatan lagi .
Dari sana, aku tak pernah bertegur sapa lagi dengannya. Meskipun hubunganku dan Hwayoung sudah kembali akur.
“Jiyeon-ah, JB memberiku pesan. Apa dia juga memberi pesan padamu?” Tanya Hwayoung saat kami sedang menunggu pesanan makan siang kami di kantin.
DEG!!!
“hmm ani. Memangnya dia memberi pesan apa padamu?” tanyaku penasaran
“dia memberiku pesan kata-kata romantis.” Katanya dengan senyum yang merekah.
“oh” jawabku singkat.
‘kenapa dia mengatakan hal itu padaku? Apa dia ingin membuatku iri? Huh menyebalkan!!’ rutukku dalam hati
Lalu aku meninggalkan Hwayoung sendirian disana dan pergi setelah membayar makan siangku yang belum tersaji.
‘Ya Tuhan aku berharap aku dapat kuat menghadapi ini semua. Dan aku mohon JAUHKANLAH HWAYOUNG DARIKU KUMOHON!!
Jujur aku rela bila JB menjadi namjachingu Hwayoung tapi jauhkanlah Hwayoung dariku.’ Itu adalah doaku pada Tuhan.
1 bulan 28 hari, aku sudah mulai dapat melupakan JB. Tapi kenapa  kini kau muncul lagi dikehidupanku?
Drrrt…drrrt
Aku melihat layar handphoneku yang bergetar. Ternyata pesan dari no baru. Jujur saja setelah kejadian itu, aku menghapus nomor ponsel JB.
From : 07xxxxxxTo : Jiyeon‘apa kabar?’
From : JiyeonTo :  07xxxxxx‘nugu?’
From : 07xxxxxxTo : Jiyeon‘aku JB. Apa Kau menghapus nomor ponselku? Waeyo?’Aku menarik nafasku panjang sebelum aku membalas pesannya. Kini Lukaku yang dulu sudah tertutup sedikit demi sedikit mulai terbuka kembali.
From : JiyeonTo : JB‘ne.. aku menghapus nomormu. Jadi ada urusan apa kau kembali menghubungiku? Bukankah kau berjanji akan menjauhiku?’
From : JBTo : Jiyeon‘aku tahu aku salah. Aku mohon maafkan aku,dan maaf karena aku menyukai Hwayoung. Mianhae. Jeongmal mianhae.’
SAKIT!!!
Itulah kata yang pas untukku sekarang.
Aku muak dengan permintaan maaf darinya dan Hwayoung.
AKU BENCI MEREKA BERDUA!!!!
From : Jiyeon
To : JB
‘sudahlah jangan meminta maaf lagi padaku.aku sudah muak dengan kata MAAF. Apalagi kata itu terucap dari mulutmu dan Hwayoung.
Sudahlah kini kau hapus saja nomor ponselku, aku juga akan menghapus nomor ponselmu. Anggap saja kau tak pernah kenal denganku ARRACHI!!’
Aku kembali menangis sendirian dikamar.
Entah kenapa aku sangat cengeng sekarang. Aku memang sering mengalami kejadian seperti ini.
TEMAN MAKAN TEMAN.
Tapi entah kenapa untuk kali ini aku merasa sangat sakit hati. Ottokhae umma, appa… appo neomu appo.
Hati ini benar-benar sakit.
Keesokan paginya, aku datang kesekolah dengan muka kusut dan mata bengkak. Aku sengaja datang pagi dan tempat pertama yang aku tuju adalah atap.
Disinilah tempatku dan Hwayoung biasa menenangkan diri. Kami saling cerita disini, kami merayakan ulang tahun kami disini, dan semuanya kami lakukan disini bersama.
“Jiyeon-ah selamat pagi. Tumben kau datang lebih pagi dariku. Oh iya aku mencarimu dari tadi. Ternyata kau disini. Oh iya kau kenapa? Kenapa matamu? Dan kenapa mukamu kusut begitu?” ucap  Hwayoung panjang lebar.
“…” tak ada jawaban dariku. Aku benar-benar tidak memiliki tenaga untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Hwayoung padaku.
“ya!! Jawab aku. Wae geurae?”
“aku menyesal pernah menangis padamu. Aku menyesal pernah bercerita padamu. Aku menyesal pernah mengenalmu. Bukankah kita sahabat? Tapi kenapa?” Jawabku pelan sambil menahan tangis.
“mwo?” tanyanya entah pura-pura tidak tahu atau sungguh tidak tahu.
“aku menyesal kenapa aku dulu harus menangis padamu. Kini nyatanya sekarang kaulah yang selalu membuatku menangis setiap malam.
Aku menyesal pernah bercerita padamu mengenai JB karena malah kau yang bersama dengannya, dan yang pasti aku menyesal karena pernah mengenalmu.” Kataku panjang lebar dengan suara yang masih pelan dan menahan tangis.
“maksudmu? Mianhae. Ini memang salahku. Dan… emm… kemarin malam JB menyatakan perasaannya padaku. Menurutmu aku harus bagaimana?” tanyanya dengan wajah polos sekaligus bodohnya.
‘sialan!!! Dia berani sekali mengatakan hal itu padaku’ jeritku dalam hati
“terima saja! Bukankah kau juga menyukainya, jadi berhentilah berpura-pura tidak tahu dan mengasihani diriku.
We are bestfriend. But why you do this to me?!” Ucapku sedikit emosi dan menaikan volume suaraku.
“nan mianhae..jinjja mianhae, apa… jika aku menerimanya kau tidak apa-apa?” tanyanya khawatir dan menyesal.
“untuk apa kau memikirkanku? Lagipula aku tidak penting.” Balasku dingin sedingin air di sungai Han saat musim dingin,
“tapi…”
“apa kau sudah selesai bicara? Aku pergi kekelas duluan.” Belum selesai dia bicara aku memotong ucapannya dan segera berjalan menjauh darinya.
Aku meninggalkannya sendirian di atap.
Kini mulailah air mata jatuh dipipiku satu persatu dan akhirnya menderas hingga membentuk sungai dipipiku.
aku menangis dikoridor sekolah yang sepi. Tidak ada yang peduli padaku.
Dan aku bertekad dalam hati, aku akan menjauhi mereka berdua bagaimanapun caranya.
1 bulan kemudian, Hwayoung mengatakan bahwa dia sudah putus dengan JB dan berkata panjang lebar bahwa ia sebenarnya tidak benar-benar menyukai Jb dan lain sebagainya, terus memohon agar aku bisa memaafkannya dan karena aku memang terlalu baik dan kasihan akhirnya kumaaf kan dia.
Tapi tentunya aku tak percaya begitu saja.
kenapa juga harus menunggu satu bulan jika dia memang tidak ada apa-apa dan ingin kembali berteman denganku?
Kenapa juga tidak mereka putus pada hari itu juga atau Hwayoung tidak menerima pernyataan cinta JB?
Ah mereka adalah actor berbakat yang hanya bisa membual dan hanya sampah yang bisa mereka ucapkan dari bibir mereka.
Meskipun aku tak percaya tapi sedikitnya ada rasa lega dalam diriku dan mulai membuka hatiku padanya lagi.
Instingku selalu benar dan instingku bilang, mereka belum putus. Dan setelah beberapa hari aku mencari tahu tentang hubungan mereka, ternyata benar mereka tidak pernah putus.
Benarkan? sekali pembual tetap pembual.
Dari situ mulailah aku tidak pernah percaya pada Hwayoung lagi.
Aku berhasil menjauh darinya. Kini aku memperbaiki diriku sendiri dari awal. Walaupun aku belum dapat melupakan kejadian itu. HINGGA SEKARANG.
#Flash back off
Aku selalu menangis mengingat masa itu.
Disana aku belajar bahwa Sahabat atau orang yang paling kupercaya ternyata adalah orang yang paling sering menyakitiku dan musuh paling berat bagiku.
Tapi terima kasih Tuhan karena Kau memberikan cobaan seperti itu padaku. Karena dengan cobaan tersebut, aku menjadi belajar bahwa dari kehilangan kita akan belajar untuk lebih bersabar,
dari kesabaran kita bisa belajar rela, dan dari kerelaan kita mendapat sebuah hikmah.
Karena hal itu pula aku mulai lebih sering mengatakan semua masalahku pada Umma, Appa, dan unnieku yang baik sekaligus cerewet Eunjung,, kini merekalah yang selalu menjadi sasaran curhatku dan penyemangat hidupku.
Terima kasih Tuhan karena Kau pernah memberikan cobaan seperti itu.
Dan satu lagi terima kasih juga kau sudah memberikanku kado yang paling terindah. Yaitu namjachingu sebaik, setampan, dan seperhatian Baekhyun ia juga salah satu penyemangat hidupku selain keluargaku.
Byun Baekhyun. Dia adalah manjachinguku. Aku bertemu dengannya 1 tahun setelah kejadian itu. Mungkin inilah imbalan yang Tuhan berikan untukku.
‘ Bagiku dia wanita tercantik
Bagiku dia wanita yang  menakjubkan
Bagiku dia sesuatu yang berharga
Bagiku dia sangat indah’
Itulah yang ia katakan pada teman-temannya tentangku. Dia tidak pernah malu mengenalkan aku pada teman-temannya. Dan aku sangat mencintai Baekhyun.
‘Saranghae Chagi’.
FIN
ini ff kedua aku,, Mian kalo ada salah kata atau penempatan titik koma yang gak bener maklum aku masih belajar.. hehehe ^^
Gamsahamnida

credit :  http://parkjiyeonfanfiction.wordpress.com     
       http://whiekyuyeonhaeri.wordpress.com/